01. ZAENAL NUROHMAN, AMD

TEGAL-Menjadi caleg adalah pengalaman pertama bagi Zaenal Nurohman. Meski begitu ia pernah berpengalaman duduk di Parlemen Muda saat dirinya menjadi mahasiswa. Jadi ia paham benar bagaimana tugas seorang legislator, mulai dari legislasi, anggaran, dan pengawasan.

“Saya pernah magang di DPRD Kota Semarang selama setengah tahun menjadi parlemen muda saat mahasiswa, ”ungkapnya.

Ia mengaku, majunya sebagai caleg tidak lain karena amanah partai. “Saya tidak cari pekerjaan. Sebagai kader PKS, ketika mendapat amanah, harus siap berkiprah,” ungkapnya.

Pengalamannya menjadi aktivitas mahasiswa di KAMMI membuat ia paham garis besar tugas-tugas anggota dewan.

Zaenal Nurohman adalah putra pertama pasangan Rasidi dan Ma’muroh. Ia memang tumbuh dalam keterbatasan ekonomi. Meski begitu, ia tidak diajarkan meminta. Menurutnya, mungkin kita ditakdirkan untuk jadi orang kaya.

Meski lahir dari dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi membuatnya bertekad menjadi seorang pengusaha begitu lulus kuliah. Dari tangannya maka lahirlah M2Art, Irene Gamis, D’Pocis Clothing dan Romansa Wedding Organizer. Sosoknya yang sederhana, ramah, dan bersahabat membuat ia disukai dan dikenal banyak orang.

“Apa yang bisa kita berikan, itulah yang terus dpikirkan. Mencapai posisi apapun, selama bermanfaat kita jalan,” ujarnya.

Ia punya mimpi bisa memberikan kesempatan lapangan kerja untuk generasi muda. Ia juga termasuk salah satu inisiator Gesit Sedekah, yang ia gelar setiap Jumat setiap bulan dengan membagi-bagikan makan siang kepada para jamaah shalat Jumat.

Zaenal memiliki filosofi gelem tandang, apalagi dengan DNA-nya sebagai pengusaha, membuat ia semakin bergerak memberikan manfaat. Ketika ada yang butuh mau turun tangan.

“Ketika turun di lapangan, saya banyak menemukan warga yang sebenarnya masalah paling mendasar saja tidak tahu, seperti misalnya pembuatan KK dan Akta Kelahiran,” ujarnya.

Kebanyakan warga itu prosesnya tidak tahu, yang kedua sibuk kerja, akhirnya fondasi awal mereka terbebankan. Sebenarnya gratis, hanya saja karena kesibukan lebih memilih untuk meminta tolong orang lain dan cukup membayar jasa. Tapi bagi masyarakat kurang mampu, tentu ini berat.

Masyarakat, menurut Zaenal,hanya butuh akses agar bisa mengurusnya sendiri. Peluang itulah yang membuatnya tergerak untuk membantu melayani masyarakat.