03. HJ. ASTI LATIFA SOFI, S.Hum

TEGAL-Berbagai cara dilakukan oleh para calon legislatif (caleg) untuk menarik simpati pemilih. Seperti yang dilakukan oleh Hj. Asti Latifa Sofi, S. Hum.

Caleg Partai Keadilan Sejahtera (PKS) untuk Daerah Pemilihan Tegal Timur Kota Tegal ini, berjanji akan memberikan 100 persen gaji dan tunjangannya untuk umat jika ia diberi amanah menjadi wakil rakyat.

“Saya siap jika Allah amanahkan sebagai wakil rakyat, insya Allah 100% gaji dan tunjangan untuk umat,” ungkap Asti, Kamis (28/2/19).

Menurut Asti, keputusan ini atas perintah suaminya yang mengizinkannya terjun di politik untuk memperkuat barisan PKS.

“Saya diminta maju jadi caleg oleh PKS atas persetujuan suami. Ketika suami meminta saya untuk tidak memakan gaji jika terpilih nanti, ya saya patuh apa kata suami. Guru ruhani saya pun berpesan demikian, agar gaji dari mengurusi hajat hidup masyarakat, tidak masuk ke tubuh,” ujarnya.

Hal itu terinspirasi dari Kyai Maimoen Zubair, sesosok ulama yang sangat wara’, meski terjun di politik tetapi tidak mengambil gaji termasuk tunjangan sepeser pun.

“Semua gaji dan tunjangan digunakan untuk kemaslahatan umat. Semuanya untuk kepentingan masyarakat. Laa hawla walaa quwwata illaa billaah.” tegasnya.

Ia menegaskan bahwa majunya dirinya sebagai caleg sama sekali bukan untuk mencari uang. “Semua kebutuhan hidup saya dan keluarga sudah ditanggung suami, Alhamdulillah. Allah Al-Ghaniy wal Mughniy. Jadi peluang yang saya cari adalah bagaimana bisa memberikan kontribusi lebih banyak lagi jika terpilih sebagai anggota dewan,” jelas Asti.

Kiprahnya di level nasional maupun internasional, serta pengalamannya merantau berpindah-pindah hingga ke Eropa, mendorongnya punya mimpi besar untuk memberi kemaslahatan bagi umat dan ide-ide terobosan untuk memajukan Kota Tegal.

“Bukan ambisi pribadi untuk memiliki jabatan atau kekuasaan, tapi untuk memberi kemaslahatan,”tuturnya.

Ada satu hadits yang selalu ia ingat terkait ini, “Saat punya ambisi akan jabatan, Rasul mengingatkan bahwa Allah tidak akan menolong, jadi saya takut akan ini,” terangnya.

“Jubah kekuasaan itu milik Allah. Dan setiap jabatan, ada Allah di atas-Nya. Isi kitab At-Tibr Al-Masbuk fi Nashihah Al-Muluk yang berisi banyak nasihat etika berkuasa bagi para pemimpin karya Imam Al-Ghazali selalu terbayang di pelupuk mata saya. Saya takut pada Allah,” tutup Wanita yang lulus dengan predikat cum laude dari Universitas Indonesia ini.