DPD PKS Kota Tegal Kukuhkan DPC dan DPRa, Siap Tancap Gas Layani Warga

DPD PKS Kota Tegal Kukuhkan DPC dan DPRa, Siap Tancap Gas Layani Warga

Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Tegal tidak mau berlama-lama. Setelah resmi mengukuhkan jajaran pengurus Dewan Pimpinan Cabang (DPC) dan Dewan Pimpinan Ranting (DPRa) se-Kota Tegal, PKS Kota Tegal langsung tancap gas dengan memberikan pelatihan kepemimpinan dasar untuk mengasah kemampuan manajerial dan pelayanan publik.

Pengukuhan pengurus DPC dan ranting PKS dilaksanakan di Sekretariat DPD PKS Kota Tegal pada Ahad (23/11/2025). Prosesi pembacaan ikrar dan pengukuhan dipimpin langsung oleh Sekretaris DPD PKS Kota Tegal, Ichsan Triyono.

Ketua DPD PKS Kota Tegal, Zaenal Nurohman, menegaskan bahwa momentum pengukuhan ini adalah ajang untuk menanamkan kembali komitmen dan mengokohkan kiprah kepemimpinan yang telah dirintis oleh para pendahulu PKS.

“Kami menyadari peran DPC dan DPRa sangat besar. Ini adalah amanah yang harus dijalankan dengan baik untuk menguatkan pelayanan di masyarakat, membimbing, dan menebarkan kebaikan,” ungkap Zaenal.

Zaenal memberikan empat (4) pesan kunci kepada para pengurus baru, yaitu: menjaga persaudaraan; memiliki bekal ruhiyah karena menebar kebaikan harus dibekali kekuatan spiritual; hadir di masyarakat; serta bersinergi dengan anggota Dewan dari PKS untuk memastikan program partai berjalan optimal.

Selain empat pesan tersebut, seluruh pengurus DPC dan DPRa juga diinstruksikan untuk mengoptimalkan program unggulan Kader, Kaderisasi, Pelayanan Publik (K2P2) sebagai strategi utama pemenangan Pemilu mendatang.

Tidak hanya seremonial, acara dilanjutkan dengan sesi upgrade skill melalui Pelatihan Basic Leadership. Materi ini disampaikan oleh tim Bidang Pelatihan dan Kepemimpinan Anggota Partai, Ali Irfan dan Adityo Herlambang. Peserta dilatih untuk memiliki kompetensi penting di lapangan, mencakup kemampuan manajerial, komunikasi publik, resolusi konflik, dan pengambilan keputusan.()

Rob Ancam Lapas Tegal: Ali Mashuri Desak Pemkot Segera Bertindak

Rob Ancam Lapas Tegal: Ali Mashuri Desak Pemkot Segera Bertindak

Anggota DPRD Kota Tegal dari Fraksi PKS Mochamad Ali Mashuri S.A.P melakukan kunjungan lapangan ke Lapas Kelas IIB Tegal. Kunjungan ini mendasari laporan warga jika kondisi lapas yang memperhatikan karena dihantam rob dan masalah sanitasi kritis.

Saat ini, Lapas Tegal dihuni sekitar 270 narapidana yang menempati 35 kamar yang secara rutin tergenang air pasang. Keresahan terbesar bukan hanya pada genangan air rob, tetapi juga kondisi sanitasi yang memprihatinkan.

Menurut Eka Feri Widianto, salah satu petugas Lapas, mengatakan lokasi lapas yang berdekatan dengan instalasi pembuangan akhir atau septic tank membuat genangan yang terjadi bercampur dengan sumber penyakit, memicu munculnya masalah kesehatan serius bagi penghuni.

Ia melanjutkan bahwa Kepala Lapas (Kalapas) Tegal telah melayangkan surat resmi kepada Pemkot Tegal melalui Bagian Umum dengan mengajukan dua permohonan utama yang bersifat mendesak.

Pertama, Kalapas berharap Pemkot Tegal dapat menyediakan lahan baru agar Lapas dapat dipindahkan ke lokasi yang lebih aman dan layak huni, jauh dari ancaman rob. Kedua, jika relokasi tidak memungkinkan, Lapas meminta Pemkot segera melakukan upaya pengerukan Kali Bacin.

“Pendangkalan sungai disinyalir menjadi penyebab utama rob yang semakin parah,” katanya.

Berdasarkan informasi di lapangan, kondisi sungai sudah sangat dangkal, bahkan mencapai setinggi lutut manusia dewasa, yang memperparah masalah rob di Kota Tegal.

Menanggapi situasi darurat ini, Ali Mashuri menyatakan akan berupaya mengawal agar masalah ini segera ditindaklanjuti. Ia melakukan koordinasi dengan pihak Provinsi maupun Pemerintah Pusat.

Dalam komunikasinya dengan Hamid Noor Yasin, anggota Komisi XIII DPR RI, ia berharap permasalahan Lapas Tegal yang memprihatinkan ini bisa menjadi perhatian di tingkat pusat dan segera mendapat solusi permanen dari otoritas terkait, mengingat aspek kemanusiaan dan darurat kesehatan yang dihadapi oleh ratusan warga binaan di Tegal.

Fasilitasi Sekolah Pra Nikah, Amiruddin Dorong Generasi Muda Siap Berkeluarga

Fasilitasi Sekolah Pra Nikah, Amiruddin Dorong Generasi Muda Siap Berkeluarga

Pemerintah Kota Tegal memperkuat edukasi pra nikah bagi generasi muda dan calon pengantin. Inisiasi ini diwujudkan melalui program Pokok-pokok Pikiran (Pokir) Wakil Ketua DPRD H. Amiruddin Lc, yang menggelar Stadium Generale II Sekolah Pra Nikah berkolaborasi dengan Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DPPKBP2PA).

Kegiatan yang berlangsung pada 10 November 2025 di Hotel Premiere Kota Tegal ini melibatkan 60 peserta dari unsur Kantor Urusan Agama (KUA), Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA), serta calon pengantin. Tujuan utamanya adalah memberikan penguatan materi mengenai kesiapan mental berkeluarga, pendidikan karakter, dan manajemen konflik dalam rumah tangga.

Sekretaris DPPKBP2PA Kota Tegal, Trysnawati, S.H., M.H., menegaskan bahwa kesiapan emosional, mental, dan pengetahuan komprehensif adalah faktor fundamental dalam membangun rumah tangga yang sehat dan berkualitas.

Untuk menambah bobot materi, Stadium Generale menghadirkan pakar ketahanan keluarga regional yang memberikan pendalaman mengenai kiat-kiat membangun komunikasi efektif dan membentuk fondasi keluarga yang kuat dari segala aspek.

Amiruddin menyampaikan bahwa program melalui Pokir ini merupakan wujud komitmennya untuk menghadirkan edukasi pra nikah yang terstruktur, modern, dan relevan dengan tantangan sosial saat ini.

“Edukasi pranikah yang baik adalah investasi jangka panjang. Kami ingin memastikan generasi muda Tegal tidak hanya siap secara administrasi, tetapi juga memiliki bekal manajemen konflik dan ketahanan diri untuk mewujudkan keluarga yang harmonis,” ujar legislator PKS ini.

Sebagai tindak lanjut, 60 peserta akan mengikuti rangkaian kelas Sekolah Siaga (Siap Berkeluarga) selama empat hari penuh, yaitu pada 15–16 November dan 22–23 November 2025. Kelas pendalaman ini dirancang menggunakan metode pembelajaran aplikatif dan interaktif.

Melalui rangkaian pendidikan ini, Pemerintah Kota Tegal berharap dapat menciptakan generasi keluarga muda yang lebih siap, lebih kuat, dan memiliki pemahaman komprehensif, sehingga berkontribusi pada peningkatan indeks kesejahteraan dan pengurangan angka perceraian di tingkat daerah.

 

Amiruddin Realisasikan Pelatihan Hortikultura untuk Ketahanan Pangan Kota Tegal

Amiruddin Realisasikan Pelatihan Hortikultura untuk Ketahanan Pangan Kota Tegal

Wakil Ketua DPRD Kota Tegal, H. Amiruddin Lc., merealisasikan program Pokok-pokok Pikiran (Pokir) dengan memberikan stimulan berupa pelatihan budidaya intensif dan bantuan alat kepada 50 anggota kelompok hortikultura. Kegiatan ini berlangsung di Balai Penyuluhan Pertanian Perikanan (BP3) Margadana, Kota Tegal, pada 12 November 2025.

Program ini merupakan hasil kolaborasi antara legislatif dengan Dinas Kelautan dan Perikanan, Pertanian, dan Pangan (DKP3) setempat, dengan fokus utama menguatkan sektor pertanian perkotaan yang berkelanjutan.

Program stimulan ini diikuti oleh 50 peserta yang berasal dari kelompok hortikultura, termasuk para penyuluh DKP3 Kota Tegal yang turut bertindak sebagai pendamping. Pelatihan yang diberikan mencakup pengenalan teknik budidaya hortikultura modern, manajemen kelembagaan kelompok, pengelolaan lahan yang efisien, hingga pemanfaatan alat pendukung produksi terkini.

Amiruddin dalam sambutannya menekankan bahwa dukungan melalui Pokir didorong untuk memastikan masyarakat memiliki akses yang memadai terhadap sarana produksi dan peningkatan kapasitas di tengah keterbatasan lahan.

“Kolaborasi dengan DKP3 menjadikan program ini lebih terukur dan tepat sasaran. Ini adalah upaya kami agar kelompok hortikultura mampu mengembangkan usaha secara mandiri dan memberikan kontribusi pada ketahanan pangan lokal,” ujar Wakil Ketua DPRD Kota Tegal tersebut.

Koordinator Penyuluh Pertanian Kota Tegal, Iswari Gunartiningsih S.P., menyatakan bahwa kolaborasi ini sangat membantu upaya DKP3 dalam menguatkan kapasitas masyarakat. “Inisiatif Pokir ini berdampak langsung pada penguatan teknik budidaya. Dalam konteks pertanian perkotaan, di mana lahan terbatas, inovasi dan teknik presisi adalah tuntutan utama,” jelasnya.

Melalui kegiatan pelatihan dan bantuan alat tersebut, diharapkan kelompok hortikultura di Kota Tegal menjadi lebih berdaya, produktif, dan mampu menciptakan inovasi pertanian yang tidak hanya meningkatkan kesejahteraan ekonomi, tetapi juga mendukung ketahanan pangan di tingkat kota secara berkelanjutan.

 

Ali Mashuri Soroti Keterbatasan Jaminan BPJS Kesehatan

Ali Mashuri Soroti Keterbatasan Jaminan BPJS Kesehatan

Hari Disabilitas Internasional tidak hanya dijadikan seremoni formal oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tegal. Lebih dari itu, anggota legislatif dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Mochamad Ali Mashuri, mengambil langkah konkret dengan memprakarsai Seminar Parenting Disabilitas yang berhasil mengumpulkan ratusan orang tua hebat.

Kegiatan yang mengangkat tema “Peran Orang Tua dalam Menumbuhkan Kemandirian Anak Berkebutuhan Khusus” ini diadakan di Ruang Rapat Paripurna DPRD Kota Tegal pada Sabtu (15/11).

Ali Mashuri, sebagai inisiator utama, menggalakkan acara ini melalui alokasi dana Pokok-Pokok Pikiran (Pokir) DPRD. Kolaborasi terjalin apik antara Ali Mashuri dengan Dinas Sosial (Dinsos) Kota Tegal dan Yayasan Disabilitas Tegal Bahari, mewujudkan aspirasi para orang tua anak berkebutuhan khusus (ABK) yang telah lama mendambakan event spesial.

“Seminar ini adalah wujud konkret penghargaan dan dukungan kita kepada anak-anak istimewa dan orang tua mereka,” ujar Ali dalam sambutannya, menegaskan pentingnya kegiatan ini sebagai penyemangat.

Dalam sesi tersebut, Ali, legislator dari Daerah Pemilihan Tegal Timur, turut membagikan kisah-kisah yang menyentuh dan inspiratif. Ia mencontohkan rekan kerjanya, seorang pengusaha sukses dengan tiga anak disabilitas, yang berkat ketulusan dan penerimaan penuh, anak-anaknya berhasil menemukan potensi terbaik mereka.

“Anak disabilitas, dengan dukungan yang tulus, mereka bisa menjadi pemimpin, bisa menjadi inspirasi,” tegasnya. Ia bahkan mencontohkan keponakannya sendiri yang, meski memiliki keterbatasan pendengaran dan bicara, kini sukses besar menempati posisi supervisor di sebuah pabrik.

Namun, substansi acara ini tidak hanya berhenti pada motivasi. Ali Mashuri secara tegas mendesak Pemerintah Kota Tegal untuk segera memberikan dukungan kebijakan yang lebih konkret dan berkelanjutan, khususnya terkait persoalan krusial: terapi lanjutan.

Ia menyoroti adanya keterbatasan jaminan dari BPJS Kesehatan yang hanya meng-cover terapi anak disabilitas hingga usia tujuh tahun. Kebutuhan esensial untuk terapi, menurut Ali, tidak berhenti pada batas usia tersebut.

“Setelah usia tujuh tahun, anak-anak ini tetap butuh terapi. Karena itu, Pemkot harus hadir,” tandas Ali.

Anggota dewan ini mendesak agar Pemerintah Kota Tegal segera menyiapkan dan mengalokasikan anggaran untuk pembangunan dan operasional rumah terapi lanjutan. “Saya juga siap mendukung dari anggaran Pokir,” tutupnya, menunjukkan komitmen kuatnya untuk memperjuangkan kebutuhan ini di ranah legislatif.

 

Aksi Nyata BIPEKA Jateng: Turun Langsung Ikuti Kegiatan RKI di 4 Kecamatan

Aksi Nyata BIPEKA Jateng: Turun Langsung Ikuti Kegiatan RKI di 4 Kecamatan

Setelah sesi diskusi mendalam, para delegasi BIPEKA se-Jawa Tengah tidak hanya berhenti pada paparan teori. Mereka melanjutkan kegiatan studi tiru dengan turun langsung ke lapangan untuk mengikuti proses kegiatan RKI yang tersebar di empat kecamatan di Kota Tegal. Langkah ini menjadi fokus utama untuk melihat praktik terbaik secara nyata, mulai dari susunan acara, materi, hingga interaksi yang terbangun dalam forum RKI.

Empat RKI yang dikunjungi untuk observasi langsung adalah RKI Maryam, RKI Husnul Khotimah, RKI Werkudoro Smart, dan RKI Alesha Salsabila. Di lokasi-lokasi ini, para pengurus BIPEKA Jateng disajikan gambaran utuh tentang model pembinaan keluarga yang berhasil diimplementasikan di tingkat basis. Mereka secara aktif mengamati proses belajar mengajar dalam sesi Sekolah Keluarga dan Forum Ayah, serta berdialog langsung dengan para penggerak dan anggota RKI. Keterlibatan langsung ini diharapkan memberikan pemahaman yang komprehensif, sehingga model RKI Kota Tegal—yang didukung oleh payung hukum Perda—dapat direplikasi dan menjadi akselerator penguatan ketahanan keluarga di seluruh wilayah Jawa Tengah.

Ketua BIPEKA DPW PKS Jateng, Titik Anggraini, S.Pd., menegaskan bahwa isu keluarga merupakan konsentrasi utama PKS, yang diyakini sebagai fondasi kekuatan bangsa.

“PKS memang sangat konsen pada isu-isu keluarga karena bangsa yang kuat itu bisa dimulai dari rumah. Dari rumah yang kuat bisa melahirkan pemimpin-pemimpin kuat,” tegas Titik di Hotel Kotta Tegal, menggarisbawahi pentingnya RKI.

Titik menjelaskan, secara nasional, BIPEKA PKS memfokuskan dua program unggulan: penguatan pemberdayaan perempuan dan penguatan ketahanan keluarga. RKI menjadi payung utama untuk isu ketahanan keluarga, yang kini telah menyebar di lebih dari 2.000 titik di Jawa Tengah.

“Di BIPEKA punya dua program unggulan. Yang pertama Rumah Keluarga Indonesia (RKI) yang merupakan forum bagi yang concern untuk ketahanan keluarga. Yang kedua pos pemberdayaan ekonomi keluarga,” ungkapnya.

RKI di Jawa Tengah menjalankan beragam program, mulai dari Sekolah Keluarga, Forum Ayah, Kajian Strategis Keluarga, hingga Konsultan Keluarga. Salah satu inisiasi terbaru adalah Gerakan Kumpul Keluarga, yang diluncurkan saat Hari Ayah, 12 November lalu, sebagai upaya peningkatan kualitas interaksi antar anggota keluarga.

Titik berharap, kegiatan studi tiru ini dapat mendorong daerah-daerah lain di Jawa Tengah untuk mengadopsi praktik terbaik pengelolaan RKI Kota Tegal sebagai bukti nyata kepedulian PKS dalam menjaga ketahanan keluarga di tingkat lokal.

 

Zaenal Nurohman; Capaian I-Bangga Di Atas Rata-Rata, Kota Tegal Jadi Model Pengarusutamaan Keluarga

Zaenal Nurohman; Capaian I-Bangga Di Atas Rata-Rata, Kota Tegal Jadi Model Pengarusutamaan Keluarga

Kota Tegal kembali menjadi sorotan setelah mencatatkan Indeks Pembangunan Keluarga (i-Bangga) yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata provinsi. Capaian ini menjadi salah satu dasar bagi Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jawa Tengah melalui Bidang Perempuan dan Keluarga (Bipeka) menjadikan Kota Tegal sebagai model implementasi program Pengarusutamaan Keluarga (PUK).

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Jawa Tengah pada 31 Oktober lalu mencatat, i-Bangga Kota Tegal mencapai 64,4, sedikit melampaui rata-rata Jawa Tengah yang berada di angka 63,9.

Capaian positif tersebut sejalan dengan upaya legislatif di Tegal yang telah mengesahkan Peraturan Daerah (Perda) tentang Penyelenggaraan Pembangunan Ketahanan Keluarga. Inilah yang kemudian mendorong Bidang Perempuan dan Keluarga (BIPEKA) DPW PKS Jawa Tengah menggelar studi tiru ke DPD PKS Kota Tegal, yang berlangsung di Hotel Kotta Tegal, Minggu (16/11/2025).

Ketua DPD PKS Kota Tegal, Zaenal Nurohman, menyatakan bahwa kehadiran Perda merupakan bukti komitmen eksekutif dan legislatif dalam menjadikan keluarga sebagai prioritas pembangunan.

”Kota Tegal adalah salah satu daerah yang sudah memiliki Perda Penyelenggaraan Pembangunan Ketahanan Keluarga. Regulasi ini menjadi payung hukum yang sangat penting bagi setiap program yang berorientasi pada penguatan fungsi keluarga,” kata Zaenal Nurohman.

Ketua Bidang Perempuan dan Keluarga DPW PKS Jawa Tengah Titik Anggraini, S.Pd., menegaskan studi tiru ini merupakan wujud konkret konsentrasi politik PKS terhadap isu keluarga, yang diyakini sebagai kunci kekuatan nasional.

”Kekuatan suatu bangsa dimulai dari rumah. Dari rumah yang kuat, kita bisa melahirkan pemimpin-pemimpin kuat,” ujar Titik. Ia berharap, praktik terbaik pengelolaan Rumah Keluarga Indonesia (RKI) Kota Tegal dapat direplikasi di daerah lain sebagai langkah nyata PKS dalam menjaga ketahanan keluarga.

Model RKI yang dikelola PKS Kota Tegal dianggap berhasil dan terukur. Ketua Bipeka DPD PKS Kota Tegal, Adistya Prastiwi menyampaikan secara program, tambah Adistya, RKI menjadi forum edukasi yang menyelenggarakan Sekolah Keluarga, Forum Ayah, Konsultan Keluarga, dan RKI Peduli.

RKI menjadi salah satu instrumen utama PKS dalam mengimplementasikan misi Pengarusutamaan Keluarga (PUK), yaitu mengintegrasikan perspektif keluarga dalam setiap aspek pembangunan dan kebijakan publik.

Ali Mashuri Siap Kawal Kebutuhan Fundamental Disabilitas

Ali Mashuri Siap Kawal Kebutuhan Fundamental Disabilitas

Kegiatan Seminar Parenting yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Disabilitas Internasional di Ruang Paripurna DPRD Kota Tegal, Sabtu, 15 November 2025, menjadi momentum bagi Forum Disabilitas Tegal Bahari (DTB) untuk menguatkan peran Menumbuhkan Kemandirian Anak Berkebutuhan Khusus.

Seminar yang bertajuk ”Dari Rumah ke Dunia: Peran Orang Tua dalam Menumbuhkan Kemandirian Anak Berkebutuhan Khusus” ini menghadirkan narasumber Dr. Benny Al Farizi, S.Pd., MM. dan Hesti Purwani, A.Md. O.T. Acara dibuka secara langsung oleh Anggota DPRD Kota Tegal Mochamad Ali Mashuri, S.A.P.

Benny Al Farisi, dalam materinya, menekankan peran orangtua sebagai guru pertama & utama” anak. Ia menggarisbawahi pentingnya orangtua yang cerdas dan sadar akan kebutuhan anak, mau terus belajar, mampu menjadi teladan, dan menggunakan teknologi dengan bijak. Tujuannya adalah melahirkan ABK Cerdas yang mandiri, bertanggung jawab, dan memiliki life skill.

Anggota DPRD Kota Tegal, Mochamad Ali Mashuri, yang menjadi pengusul kegiatan ini, membuka acara dengan mengakui bahwa seminar tersebut adalah wujud kepedulian terhadap anak-anak yang tergabung dalam forum Disabilitas Tegal Bahari (DTB). Ia secara terbuka menjanjikan pengawalan terhadap kebutuhan fasilitas utama ABK di Kota Tegal.

”Kebutuhan mendesak yang fundamental adalah fasilitas untuk melanjutkan terapi bagi anak disabilitas di atas usia tujuh tahun. Saya berupaya mengawal agar kebutuhan rumah terapi ini dapat direalisasikan di Kota Tegal,” ujar Ali Mashuri. Ia juga berharap Pemerintah Kota Tegal melalui Dinas Sosial Kota Tegal dapat mengagendakan kegiatan serupa di tahun-tahun berikutnya.

Ketua Forum Disabilitas Tegal Bahari (DTB), Aris Aditya Resi, mengungkapkan bahwa upaya orang tua tidak akan maksimal tanpa dukungan infrastruktur yang memadai dari pemerintah daerah.

”Kami mengapresiasi edukasi ini, tetapi kebutuhan mendasar kami adalah fasilitas permanen yang dapat dijangkau. Setelah usia tertentu, banyak anak kami kesulitan melanjutkan terapi yang vital bagi tumbuh kembang mereka,” kata Aris Aditya Resi.

RKI jadi Program Unggulan PKS: Bipeka PKS Jateng Studi Tiru ke RKI Kota Tegal

RKI jadi Program Unggulan PKS: Bipeka PKS Jateng Studi Tiru ke RKI Kota Tegal

Dewan Pengurus Wilayah Partai Keadilan Sejahtera Jawa Tengah, melalui Bidang Perempuan dan Keluarga (BIPEKA), melakukan studi tiru ke Dewan Pengurus Daerah PKS Kota Tegal, Ahad (16/11). Kunjungan ini bertujuan untuk mengadopsi praktik terbaik program Rumah Keluarga Indonesia  yang telah menjadi salah satu program unggulan PKS secara nasional.

Pemilihan Kota Tegal sebagai lokasi studi tiru didasarkan pada dua alasan utama: keberhasilan DPD PKS Tegal dalam pembinaan keluarga melalui konsep RKI, serta status Kota Tegal sebagai salah satu daerah yang telah memiliki Peraturan Daerah tentang Penyelenggaraan Pembangunan Ketahanan Keluarga.

Ketua BIPEKA DPW PKS Jateng, Titik Anggraini, S.Pd., menyampaikan bahwa isu keluarga merupakan konsentrasi utama PKS, yang diyakini sebagai fondasi kekuatan bangsa.

“PKS memang sangat konsen pada isu-isu keluarga karena bangsa yang kuat itu bisa dimulai dari rumah. Dari rumah yang kuat bisa melahirkan pemimpin-pemimpin kuat,” tegas Titik di Hotel Kotta Tegal.

Titik menjelaskan, pada periode ini, BIPEKA PKS secara nasional memfokuskan dua program unggulan: penguatan pemberdayaan perempuan dan penguatan ketahanan keluarga. RKI menjadi payung utama untuk isu ketahanan keluarga.

“Di BIPEKA punya dua program unggulan. Yang pertama Rumah Keluarga Indonesia (RKI) yang merupakan forum bagi yang concern untuk ketahanan keluarga. Yang kedua pos pemberdayaan ekonomi keluarga,” ungkapnya.

Keberadaan RKI yang kini tersebar di lebih dari 2.000 titik di seluruh Jawa Tengah, menjalankan beragam program, mulai dari Sekolah Keluarga, Forum Ayah, Kajian Strategis Keluarga, hingga Konsultan Keluarga. Salah satu program yang baru diluncurkan adalah Gerakan Kumpul Keluarga, yang diinisiasi saat Hari Ayah, 12 November lalu, sebagai upaya peningkatan kualitas interaksi antar anggota keluarga.

Titik berharap kegiatan ini dapat mendorong daerah-daerah lain di Jawa Tengah untuk mengadopsi praktik terbaik pengelolaan RKI Kota Tegal sebagai bukti nyata kepedulian PKS dalam menjaga ketahanan keluarga di tingkat lokal.

Ketua DPD PKS Kota Tegal Zaenal Nurohman mendukung penuh langkah Bipeka untuk menguatkan peran keluarga.  “Ini adalah ikhtiar nyata PKS dalam mengemban misi Pengarusutamaan Keluarga,” ungkapnya. Misi ini bertujuan untuk memasukkan perspektif keluarga dalam segala aspek pembangunan. Sebagai legislator daerah, salah satu yang telah diperjuangkan adalah disahkannya Perda Penyelenggaraan Pembangunan Ketahanan Keluarga.

“Ini untuk memastikan kebijakan publik berpihak pada penguatan fungsi-fungsi keluarga,” tambah Zaenal.

Kegiatan studi tiru ini dihadiri Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah H. Sururul Fuad, Lc, M.E.I, Anggota DPR RI DR. Abdul Fikri Faqih, MM, Wakil Ketua DPRD Kota Tegal H. Amiruddin, Lc yang menunjukkan dukungan penuh terhadap isu ketahanan keluarga dan adopsi kebijakan publik yang mendukungnya.

Sementara itu Ketua Bipeka DPD PKS Kota Tegal Adistya Pratiwi, S.Pi menyampaikan apresiasi atas kehadiran Tim Bipeka DPW PKS Jateng yang menjadikan RKI Kota Tegal sebagai model untuk diterapkan di Kota/Kabupaten di Jawa Tengah

Serumah Tapi Tak Sejiwa

Serumah Tapi Tak Sejiwa

Oleh: Ali Irfan

Dosen. Ketua Bidang  Pelatihan dan Kepemimpinan Anggota Partai DPD PKS Kota Tegal

 

Indonesia menempati urutan ketiga sebagai fatherless country dalam pengasuhan anak. Fenomena fatherless ini dialami oleh 1 dari 5 anak Indonesia. Dampaknya sangat serius—dari krisis kepercayaan diri hingga risiko perilaku menyimpang.

Data UNICEF 2021 menunjukkan sekitar 20,9 persen anak Indonesia kehilangan peran ayah dalam kehidupannya. Riset Kompas menunjukkan ada sekitar 15,9 juta anak Indonesia yang berpotensi tumbuh tanpa figur ayah. BPS mencatat hanya 37,17 persen anak usia 0–5 tahun yang tinggal bersama kedua orang tua kandung.

Fatherless merupakan istilah yang di mana seorang anak hidup hanya bersama dengan ibunya tanpa kehadiran ayah, baik secara fisik maupun psikologis. Ayah menjadi sosok yang sering disebut, tetapi makin jarang dirasakan. Ada di rumah, tapi tak hadir dalam cerita. Menafkahi, tapi tak menenangkan. Berbicara, tapi tak benar-benar menyapa.

Ketiadaan peran ayah karena ia hanya hadir secara fisik dan tidak terlibat dalam masalah tumbuh kembang anak. Indikasi tersebut didasarkan pada jumlah waktu yang dihabiskan ayah untuk berkomunikasi dengan anak-anak mereka.  Semakin sedikit waktu untuk berkomunikasi dengan anak, maka semakin kuat negeri tersebut disebut sebagai fatherless country.

Osmond (2010) mengartikan bahwa fatherless merupakan kondisi di mana seorang individu tidak secara fisik maupun emosional Bersama dengan ayahnya. Fatherless akan berpengaruh terhadap harga diri (self-esteem) yang rendah ketika ia dewasa, adanya perasaan marah, rasa malu, rasa kesepian, rasa cemburu, kedukaan, dan perasaan kehilangan yang ekstrim, yang disertai pula oleh rendahnya pengendalian diri (Lenner, 2011; Kruk, 2012)

Fenomena fatherless bukan hanya tentang ketiadaan fisik seorang ayah, melainkan absennya jiwa kepemimpinan yang seharusnya ditumbuhkan dalam diri anak. Banyak anak tumbuh dalam rumah lengkap, tapi batinnya yatim. Mereka punya sosok yang dipanggil Ayah, tapi tak tahu rasanya dipeluk dengan aman, didengar dengan sabar, atau dituntun dengan lembut. Tinggal serumah tapi tidak sejiwa.

Di zaman modern yang memuja kesibukan. Lembur dianggap cinta, gawai dijadikan pengganti tatapan. Lalu lahirlah generasi yang kehilangan arah. Di ruang makan yang seharusnya digunakan untuk membangun kelekatan, suasana sepi, ayah makan sambil menggulir layar, sementara anak diam sambil memendam tanya: Apakah aku berharga di matanya?

Ayah yang ideal bukanlah yang selalu tahu jawaban atas setiap pertanyaan, tapi yang bersedia hadir dalam tanya. Bukan seberapa lama kita bersama keluarga, tapi seberapa dalam kesan yang kita tinggalkan. Ia tak harus sempurna, cukup jujur. Tak mesti banyak bicara, asal hadir dengan hati yang utuh. Sebab bagi anak, rasa aman tak lahir dari uang saku, melainkan dari pelukan yang menegaskan: Aku ada bersamamu.

Menjadi ayah sejati adalah perjalanan pulang — dari ego menuju empati, dari gengsi menuju kedekatan. Saat ayah belajar menatap mata anaknya, di sanalah cinta menemukan bentuk yang paling sederhana namun paling kuat: kehadiran.

Peran ayah tidak hanya bersifat simbolik, tetapi krusial dalam pembentukan karakter anak. Kehadiran yang utuh merupakan bentuk tanggung jawab dan investasi jangka panjang bagi masa depan generasi penerus. Anak yang tumbuh di rumah yang penuh dengan limpahan kasih sayang, kecil kemungkinan menjadi pelaku kekerasan atau bullying. Jika ayah sebagai qawwam—penopang keluarga—kuat, maka sebesar apa pun masalah, keluarga akan tetap kokoh. Kedekatan kepada seorang ayah membuat anak tampil percaya diri dan dekat dengan seorang ibu membuat anak penuh kasih saying.

Zaman boleh berubah, tapi kebutuhan anak tak pernah usang — rasa aman, rasa diterima, rasa dicintai. Dan semua itu bermula dari satu sosok: seorang ayah yang memilih hadir, bukan sekadar tinggal.[]

Artikel ini telah dimuat Radar Tegal Kamis, 13 November 2025.
Copyright © 2026