PKS Kota Tegal Resmi Terapkan Kurikulum RKI, Fokus pada Penguatan Keluarga

PKS Kota Tegal Resmi Terapkan Kurikulum RKI, Fokus pada Penguatan Keluarga

Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga Dewan Pengurus Daerah (DPD) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Tegal resmi meluncurkan Kurikulum Rumah Keluarga Indonesia (RKI).

Langkah ini diambil sebagai strategi taktis dalam merespons tantangan sosial modern yang kian kompleks, mulai dari isu ketahanan domestik hingga ancaman finansial digital.

Ketua DPD PKS Kota Tegal, Zaenal Nurohman, SAP, menegaskan bahwa fokus terhadap penguatan unit keluarga merupakan karakteristik pembeda utama dalam pola pembinaan partainya. Menurutnya, RKI memegang peran krusial sebagai episentrum peningkatan spiritual sekaligus instrumen untuk menaikkan Indeks Pembangunan Kader. saat ini, tercatat ada 136 titik RKI yang tersebar di wilayah Kota Tegal.

“Apa yang disampaikan oleh para pengurus di RKI senantiasa diamati oleh masyarakat. Oleh karena itu, kehadiran para kader harus dibarengi dengan semangat, kesungguhan, dan kompetensi yang mumpuni saat mengisi taujih (arahan keagamaan/motivasi). Harapan besar kami, pembinaan yang terstruktur ini mampu melahirkan keluarga-keluarga yang kokoh,” ujar Zaenal.

Untuk memastikan standardisasi pembinaan di 136 RKI tersebut, Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga (Bipeka) DPD PKS Kota Tegal menyusun cetak biru (blueprint) pengajaran yang komprehensif. Ketua Bipeka DPD PKS Kota Tegal, Adistya Pratiwi, menjelaskan bahwa kurikulum baru ini merangkum lima pilar materi utama.

Kelima pilar tersebut meliputi pendidikan pranikah, manajemen rumah tangga, pola asuh anak, kesehatan dan kesejahteraan keluarga, serta literasi digital keluarga.

“Tujuan utama dari pembinaan ini adalah meningkatkan kapasitas keluarga secara holistik demi menyiapkan generasi masa depan yang tangguh dan berakhlak mulia,” urai Adistya.

PKS Kota Tegal Salurkan 4.672 Paket Daging Kurban Serentak di 4 Dapil

PKS Kota Tegal Salurkan 4.672 Paket Daging Kurban Serentak di 4 Dapil

Momentum Hari Raya Idul Adha 1447 H menjadi ajang bagi Dewan Pengurus Daerah (DPD) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Tegal untuk memperkuat kepedulian sosial. Melalui struktur pengurus di tingkat kecamatan yang tersebar di 4 Daerah Pemilihan (Dapil), PKS Kota Tegal menyelenggarakan pemotongan dan pembagian hewan kurban serentak untuk masyarakat yang membutuhkan.

Proses pengolahan daging kurban berlangsung dengan penuh khidmat dan semangat gotong royong. Berdasarkan pantauan di salah satu posko, yakni di wilayah Tegal Selatan, sejumlah pengurus DPC bersama para relawan dan warga sekitar tampak kompak bahu-membahu. Dengan beralaskan terpal biru dan plastik steril, mereka memotong, menimbang, dan mengemas daging kurban ke dalam kantong-kantong siap edar.

Ketua DPD PKS Kota Tegal, Zaenal Nurohman, menegaskan bahwa gerakan kurban ini merupakan komitmen partai untuk selalu hadir dan membawa kemaslahatan langsung di tengah masyarakat, khususnya dalam situasi ekonomi yang menantang saat ini.

“Ibadah kurban ini adalah momentum bagi seluruh kader PKS di Kota Tegal untuk melatih kepedulian dan memperkokoh rasa persaudaraan. Kami ingin memastikan kebahagiaan Idul Adha ini bisa dirasakan merata oleh warga di seluruh penjuru kota melalui pergerakan struktur di 4 Dapil,” ujar Zaenal Nurohman di lokasi pemotongan hewan kurban di Tegal Selatan.

Senada dengan hal tersebut, Ketua DPC PKS Tegal Selatan, Rozikin, menyampaikan kegiatan ini bukan sekadar rutinitas tahunan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, melainkan juga sarana mempererat tali silaturahmi.

“Kegiatan ini momentum bagi PKS untuk terus hadir di tengah masyarakat dan berbagi kebahagiaan, terutama bagi warga yang membutuhkan,” katanya.

Untuk memastikan ketertiban dan ketepatan sasaran, daging kurban yang telah dikemas disalurkan secara langsung oleh para kader PKS secara door-to-door ke rumah-rumah warga.

Secara keseluruhan, gerakan kurban serentak PKS Kota Tegal di 4 Dapil berhasil menghimpun total 15 ekor sapi dan 30 ekor kambing. Dari total perolehan tersebut, para kader di tingkat kecamatan menyalurkan sebanyak 4.672 paket daging kurban siap antar.

Jika dibedah per kecamatan, peta sebaran perolehan dan wilayah penerima manfaat menunjukkan karakteristik yang beragam. DPC PKS Tegal Barat menjadi wilayah dengan produktivitas tertinggi dalam penyaluran manfaat. Berbekal 6 ekor sapi dan 8 ekor kambing, kader PKS Tegal Barat berhasil mengemas dan mendistribusikan sebanyak 1.478 paket daging kurban.

Sementara itu, DPC PKS Margadana memotong 4 ekor sapi dan 4 ekor kambing, yang kemudian mampu menjangkau hingga 1.414 paket penerima manfaat.

Di sisi lain, DPC PKS Tegal Timur menjadi pusat perolehan hewan kurban jenis kambing yang sangat masif, yakni mencapai 16 ekor kambing dan 3 ekor sapi. Banyaknya jumlah hewan kurban ini berhasil dikonversi menjadi 1.098 paket daging untuk warga.

Terakhir, DPC PKS Tegal Selatan mengelola 2 ekor sapi dan 2 ekor kambing. Melalui gotong royong yang solid, seluruh hewan kurban tersebut berhasil disalurkan menjadi 682 paket daging bagi warga yang membutuhkan.

Melalui aksi serentak ini, PKS Kota Tegal berharap dapat terus menebar kemaslahatan dan memperkokoh rasa persaudaraan di seluruh lingkungan masyarakat Kota Tegal.

Ikhtiar Amirudin Menepis Apatisme Politik Anak Muda

Ikhtiar Amirudin Menepis Apatisme Politik Anak Muda

Sabtu pagi (23/5/2026), Aula Kampus 2 Universitas Pancasakti (UPS) Tegal tampak lebih padat dari biasanya. Riuh rendah obrolan lebih dari 100 mahasiswa dan pelajar SMA memenuhi ruangan. Di barisan depan, Wakil Ketua DPRD Kota Tegal, H. Amirudin, Lc., duduk menyimak. Hari itu, ia melepas sejenak atribut formal parlemen untuk hadir sebagai pembicara dalam Sivic Edufest 2026 yang diinisiasi oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) UPS Tegal.

Bagi Amirudin, undangan dari para mahasiswa ini bukan sekadar agenda seremonial pengisi akhir pekan. Tema yang disodorkan panitia—“Generasi Muda yang Cerdas Politik untuk Masa Depan Indonesia”—mengetuk kegelisahan yang sama yang kerap ia rasakan di gedung dewan: jarak yang lebar antara ruang kebijakan publik dan realitas anak muda.

Amirudin menangkap ada atmosfer yang berbeda saat Wakil Dekan III FKIP UPS Dr. Munadi, M.Si., dan Ketua Prodi PPKn R. Samidi, M.Pd., memberikan sambutan. Ada harapan besar yang dititipkan kepada generasi z dan alfa ini untuk menjadi agen perubahan (agent of change) yang melek warga negara (civic engagement). Namun, ia tahu, tantangan di lapangan tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Saat mendapat giliran berbicara bersama politisi muda Muhammad Syaeful Mujab, S.IP., M.Sc., Amirudin memilih pendekatan yang dialogis. Dipandu oleh moderator Bagas Ardiyanto, legislator dari Kota Tegal ini tidak ingin berceramah kaku mengenai pasal-pasal hukum. Ia justru memulainya dengan membedah anatomi sistem politik Indonesia dengan bahasa yang membumi.

“Sistem politik dan kebijakan publik itulah yang menentukan berapa biaya pendidikan kalian, bagaimana fasilitas transportasi di kota ini, hingga seberapa luas lapangan kerja yang tersedia saat kalian lulus nanti,” urai Amirudin di hadapan peserta.

Ia menyadari betul, musuh terbesar demokrasi hari ini di kalangan anak muda adalah apatisme dan tsunami hoaks di media sosial. Di era digital, informasi politik sering kali terdistorsi menjadi sekadar propaganda dan polarisasi yang menakutkan bagi pelajar.

Dalam paparannya, Amirudin secara khusus mengedukasi peserta untuk memiliki daya saring yang ketat sebelum membagikan informasi (sharing). Ia mengajak audiens membedakan secara tegas mana yang merupakan fakta objektif, mana opini personal, dan mana yang murni propaganda politik.

“Anak muda harus kritis. Jangan mau menjadi komoditas politik atau sekadar objek pemilu. Kalian harus menjadi subjek yang aktif melakukan kontrol sosial,” tegasnya.

Suasana ruang aula semakin hidup saat memasuki sesi tanya jawab. Amirudin melihat antusiasme sekaligus kecemasan dari balik draf pertanyaan para pelajar. Salah satu pertanyaan yang menggelitik adalah bagaimana cara terlibat dalam mengawasi jalannya pemerintahan tanpa harus terjebak dalam pusaran polarisasi politik yang tajam.

Amirudin tersenyum mendengar pertanyaan itu. Baginya, ini adalah bukti bahwa anak muda sebenarnya peduli, mereka hanya butuh ruang yang aman dan rasional. Ia menjelaskan bahwa partisipasi politik tidak melulu harus masuk partai politik. Terlibat aktif dalam organisasi kampus, komunitas sosial yang konstruktif, hingga memberikan masukan kritis terhadap kebijakan daerah melalui kanal resmi adalah wujud nyata dari peran demokrasi kaum muda.

Respons jujur dari salah seorang peserta pelajar bahkan sempat mengonfirmasi asumsi Amirudin selama ini. “Dulu aku pikir politik itu kotor dan tidak untuk anak sekolah. Ternyata kalau kita paham, kita bisa ikut mengawasi dan memberikan masukan,” cetus siswa tersebut.

Bagi Amirudin, testimoni pendek dari peserta itu adalah pencapaian terbesar dari forum hari itu. Stigma buruk tentang politik perlahan luruh di kepala generasi masa depan Kota Tegal.

Amirudin merefleksikan bahwa komitmen yang ditunjukkan oleh HMPS PPKn UPS Tegal adalah investasi jangka panjang yang mahal untuk kualitas demokrasi Indonesia. Berada di antara ratusan anak muda yang kritis hari itu memberi sang Wakil Ketua Dewan sebuah optimisme baru. Demokrasi masa depan tidak akan mati selama ruang-ruang akademik masih konsisten menyalakan lilin literasi politik yang sehat, dewasa, dan beretika. Tugasnya di parlemen kini memiliki mitra strategis: generasi muda yang siap beralih peran dari sekadar penonton menjadi pengawal kebijakan publik yang aktif

Catatan dari Tegal: Membela Hak Ibadah Tanpa Menggusur Isi Piring Nasi

Catatan dari Tegal: Membela Hak Ibadah Tanpa Menggusur Isi Piring Nasi

Ruang Rapat Paripurna DPRD Kota Tegal, Senin (25/5/2026), mendadak hening sesaat setelah perwakilan warga selesai berbicara. Sebagai Ketua Badan Aspirasi Masyarakat (BAM) DPR RI, Ahmad Heryawan menyimak dengan saksama setiap untaian kalimat yang keluar dari bibir Anis Yuslam Dahda, Ketua Paguyuban Pedagang kawasan Alun-Alun.

“Seperti setetes embun di Gurun Sahara, Pak,” ucap Anis, menggambarkan rasa leganya setelah mendengar keputusan bahwa kebijakan Car Free Night (CFN) setiap Sabtu malam resmi dievaluasi dan dihapus.

Bagi Ahmad Heryawan—atau yang akrab disapa Aher—kalimat itu bukan sekadar metafora. Itu adalah jeritan urat nadi perekonomian warga kecil yang selama ini tersendat akibat penutupan akses jalan. Kunjungan kerja BAM DPR RI ke Kota Tegal hari itu memang membawa misi besar: mengurai benang kusut tata ruang publik yang mulai bergesekan dengan kepentingan ekonomi dan hak asasi warga.

Sejak awal memimpin rombongan dari Senayan, Aher menyadari penataan kota di daerah urban seperti Tegal kerap menyisakan dilema. Di satu sisi, pemerintah daerah ingin mempercantik kota. Di sisi lain, ada ruang hidup masyarakat yang terganggu.

Persoalan di Kota Tegal ternyata tidak berhenti pada perkara CFN Sabtu malam. Masalah yang tak kalah pelik menanti di Jalan Slamet Riyadi setiap Minggu pagi. Keberadaan pasar tiban sejak tahun 2021 telah menutup akses ibadah bagi umat di Meditation Center Tegal dan jemaat Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) Shalom.

Aher mendengarkan kesaksian dari Aditya Ananta Nugroho dari Meditation Center dan Jonatan Setiabudi dari GPPS Shalom. Mereka bercerita betapa lansia dan para Bhikku kesulitan menuju rumah ibadah karena kepungan pasar. Mengubah jadwal ibadah ke sore hari pun sudah dicoba, tetapi jemaat justru menyusut drastis.

Di sinilah peran Aher sebagai jembatan aspirasi diuji. Baginya, kasus ini menyentuh dua aspek fundamental kebangsaan: hak beribadah yang dijamin konstitusi dan hak warga negara untuk mencari nafkah.

“Kedua sektor ini sama-sama penting. Tidak boleh ada yang dikorbankan,” pikir Aher saat itu.

Ia menolak opsi penggusuran paksa yang berpotensi memicu konflik sosial. Solusi yang ditawarkan haruslah sebuah jalan tengah yang adil (win-win solution).

Mengetuk Pintu Solusi Pemkot Tegal

Aher mengapresiasi respons taktis yang ditunjukkan oleh Wali Kota Tegal Dedy Yon Supriyono dan Ketua DPRD Kota Tegal Kusnendro. Dalam rapat tersebut, Pemerintah Kota Tegal langsung memaparkan cetak biru solusi yang matang.

Untuk masalah Alun-Alun, CFN dihapus dan dikembalikan menjadi urat nadi ekonomi, dengan kompensasi penyediaan enam kantong parkir terpusat agar kota tetap rapi. Sementara untuk pasar tiban, alih-alih dibubarkan, Pemkot mengambil langkah solutif dengan menggeser lokasinya ke sisi timur Jalan Slamet Riyadi dan ke utara Jalan Panggung Timur.

Mendengar paparan solusi tersebut, wajah Aher tampak menjauh dari ketegangan. Solusi penggeseran lapak ini dinilainya sangat proporsional. Umat Buddha dan Kristen di kawasan tersebut kini bisa kembali melaksanakan ibadah pagi dengan khusyuk dan nyaman, sementara para pedagang pasar tiban tetap bisa berjualan tanpa kehilangan mata pencaharian mereka.

Di akhir pertemuan, Aher tidak dapat menyembunyikan rasa syukurnya. Langkah konkret yang diambil Pemkot dan DPRD Tegal dinilainya sebagai contoh penataan kota yang responsif terhadap aspirasi arus bawah.

“Itu penyelesaiannya. Alhamdulillah, terima kasih Pak Wali, terima kasih DPRD,” tutur politikus PKS tersebut dengan nada lega.

Bagi Aher dan BAM DPR RI, perjalanan ke Kota Tegal kali ini membuahkan hasil yang manis. Konflik ruang publik tidak harus diselesaikan dengan urat syaraf, melainkan dengan komunikasi yang terbuka dan musyawarah yang konstruktif. Kota Tegal hari itu berhasil membuktikan bahwa harmoni antara toleransi beragama dan geliat ekonomi lokal bisa berjalan beriringan di atas satu hamparan aspal.

Wakil Ketua DPRD Kota Tegal Ajak Generasi Muda Perkuat Karakter

Wakil Ketua DPRD Kota Tegal Ajak Generasi Muda Perkuat Karakter

Generasi muda di Kota Tegal, Jawa Tengah, didorong untuk memperkuat karakter, kecerdasan berpikir, serta spiritualitas dalam menghadapi tantangan zaman. Momentum Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) harus menjadi pemantik bagi para pelajar untuk terus meningkatkan prestasi dan kontribusi nyata bagi bangsa.

Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tegal, Amiruddin, saat bertindak sebagai pembina upacara peringatan Harkitnas di SMK Al Irsyad Kota Tegal, Rabu (20/5/2026). Upacara tersebut diikuti dengan khidmat oleh ratusan siswa serta tenaga pendidik di sekolah tersebut.

“Pemuda adalah harapan bangsa yang akan menentukan arah masa depan Indonesia. Oleh karena itu, generasi muda harus menjadi pribadi yang kuat, tidak hanya secara fisik, tetapi juga kuat secara spiritual, cara berpikir, serta memiliki keluhuran akhlak,” ujar Amiruddin.

Dalam amanatnya yang diselingi dengan pantun motivasi, Amiruddin juga menekankan pentingnya menjaga nilai-nilai persatuan, kedisiplinan, dan cinta tanah air. Nilai-nilai ini dinilai krusial untuk diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah maupun di tengah masyarakat luas.

Peringatan Harkitnas tahun ini diharapkan tidak sekadar menjadi seremonial tahunan atau pengingat sejarah masa lalu. Lebih dari itu, nilai-nilai perjuangan para tokoh bangsa harus ditransformasikan ke dalam semangat belajar dan adaptabilitas terhadap kemajuan teknologi.

Kepala SMK Al Irsyad Kota Tegal, Raushan Fikry Adam, menyampaikan apresiasinya atas kehadiran dan arahan yang diberikan oleh pimpinan DPRD Kota Tegal. Menurut dia, kehadiran tokoh publik di tengah-tengah siswa memberikan motivasi tambahan bagi peserta didik.

“Kami berharap kegiatan ini dapat menumbuhkan kembali semangat juang dan rasa nasionalisme para siswa. Pihak sekolah berkomitmen untuk terus memfasilitasi pengembangan potensi diri siswa agar mereka siap menghadapi tantangan masa depan dengan optimisme,” kata Raushan.

Melalui momentum ini, pihak sekolah juga mendorong para pelajar untuk berani melakukan perubahan positif dan menjadi generasi yang unggul serta berkarakter di bidangnya masing-masing.

Wakil Ketua DPRD Tegal Apresiasi Aksi Damai Ojol

Wakil Ketua DPRD Tegal Apresiasi Aksi Damai Ojol

 

Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tegal, H. Amiruddin, Lc., memberikan apresiasi tinggi terhadap aksi damai yang digelar oleh ratusan pengemudi ojek online (ojol) di depan Gedung DPRD Kota Tegal. Ia menilai, penyampaian aspirasi yang dilakukan dengan tertib, jelas, dan sopan mencerminkan kedewasaan para pengemudi dalam menyuarakan hak-hak mereka.

“Kami sangat mengapresiasi cara teman-teman driver ojol menyampaikan aspirasinya hari ini. Aksinya berjalan damai, argumentasinya jelas, dan disampaikan dengan sangat sopan. Ini patut dicontoh,” ujar Amiruddin saat ditemui usai menerima para perwakilan ojol.

Menurut Amiruddin, poin-poin yang dituntut oleh para pengemudi ojol sangat mendasar dan menyangkut hajat hidup serta kenyamanan mereka dalam bekerja sehari-hari di jalanan.

Ada dua isu krusial yang digarisbawahi dari pertemuan tersebut. Pertama, para pengemudi mendesak adanya kepastian hukum yang jelas yang mengatur regulasi transportasi online. Kedua, masalah yang dinilai paling urgen adalah tingginya potongan komisi dari pihak aplikator—seperti Maxim, Grab, Gojek, dan Shopee—yang selama ini dirasa sangat memberatkan pendapatan para mitra driver.

“Mereka hanya ingin bekerja dengan nyaman dan mendapatkan penghasilan yang adil. Potongan dari pihak aplikator yang terlalu besar jelas memukul kesejahteraan mereka di lapangan,” lanjut Amiruddin.

Karena regulasi transportasi online dan kebijakan aplikator berada di bawah kewenangan pemerintah pusat, para pengemudi ojol sangat berharap agar DPRD dan Walikota Tegal dapat menjadi jembatan untuk meneruskan aspirasi ini ke Jakarta.

Menanggapi harapan tersebut, kelembagaan DPRD Kota Tegal bergerak cepat. Ketua DPRD Kota Tegal menyatakan komitmennya untuk segera membawa dan memperjuangkan aspirasi para pengemudi ojol ini ke tingkat nasional.

Rencananya, isu krusial ini akan dimasukkan ke dalam agenda pembahasan resmi dalam Rapat Koordinasi Adeksi (Asosiasi Dewan Kota Seluruh Indonesia) yang akan digelar dalam waktu dekat. Melalui forum Adeksi, tekanan secara kolektif dari berbagai daerah diharapkan mampu mendesak Pemerintah Pusat untuk segera mengevaluasi tarif potong komisi dan menerbitkan payung hukum yang lebih berpihak pada kesejahteraan para mitra transportasi online.

Pelaku Usaha Mikro di Kota Tegal Didorong Miliki Perencanaan Bisnis yang Matang

Pelaku Usaha Mikro di Kota Tegal Didorong Miliki Perencanaan Bisnis yang Matang

Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, dan Perdagangan (Dinkop UKM Perdagangan) Kota Tegal mendorong para pelaku usaha mikro di wilayahnya untuk mulai mengimplementasikan manajemen perencanaan bisnis yang terukur. Langkah ini dinilai krusial guna meningkatkan daya saing dan memastikan keberlanjutan usaha di tengah penetrasi digitalisasi pasar yang semakin masif.

Guna mewujudkan hal tersebut, Dinkop UKM Perdagangan Kota Tegal menggelar Pelatihan Perencanaan Bisnis yang berlangsung selama dua hari, Selasa (19/5/2026) hingga Rabu (20/5/2026), di Rumah BUMN Tegal. Kegiatan ini diikuti oleh 41 pelaku usaha mikro dari berbagai sektor komoditas.

Kepala Dinkop UKM Perdagangan Kota Tegal Sirat Mardanus, melalui Kepala Bidang Koperasi dan Usaha Mikro Randy Aditya, memaparkan bahwa sektor UMKM merupakan salah satu pilar utama penggerak roda perekonomian di Kota Tegal. Berdasarkan data per tahun 2025, tercatat sebanyak 41.879 unit UMKM tumbuh di kota pesisir ini, dengan konsentrasi terbesar pada sektor kuliner, kerajinan, dan perdagangan berbasis kemasyarakatan.

Meski demikian, Sirat mengingatkan bahwa keunggulan kualitas produk semata tidak lagi cukup untuk menjamin eksistensi usaha di era pasar terbuka saat ini.

“Karakteristik persaingan pasar saat ini semakin ketat seiring dengan adopsi teknologi digital. Pelaku usaha mikro tidak dapat lagi mengelola usahanya tanpa arah yang jelas. Mereka membutuhkan perencanaan bisnis yang matang, mulai dari aspek lini produksi, strategi pemasaran, tata kelola keuangan, hingga peta jalan pengembangan jangka panjang,” kata Sirat di Tegal, Rabu.

Menurut Sirat, pola kegagalan perkembangan usaha mikro umumnya bukan dipicu oleh buruknya kualitas produk, melainkan akibat ketiadaan kompas rujukan operasional atau peta jalan (roadmap) usaha. Perencanaan bisnis yang komprehensif diperlukan agar pelaku usaha mampu menetapkan target secara realistis, memetakan peluang, memitigasi risiko, serta mengoptimasikan alokasi modal kerja.

Orientasi Pola Pikir

Hadir dalam kegiatan tersebut, Ketua Komisi II DPRD Kota Tegal Zaenal Nurohman menyampaikan bahwa program pelatihan ini diharapkan dapat menjadi stimulan bagi lahirnya ekosistem wirausaha yang mandiri dan berdaya tahan di Kota Tegal. Penumbuhan sektor usaha mikro secara terstruktur dinilai menjadi instrumen efektif dalam menekan angka pengangguran dan kemiskinan daerah.

Zaenal menggarisbawahi bahwa faktor determinan utama dalam keberhasilan sebuah usaha terletak pada kesiapan pola pikir (mindset) dan penguasaan metodologi bisnis, bukan sekadar ketersediaan modal finansial.

“Kontribusi modal kerja dalam keberhasilan usaha sering kali dinilai terlalu berlebihan, padahal sekitar 90 hingga 95 persen keberlanjutan usaha justru ditentukan oleh orientasi pola pikir dan pemahaman ilmu bisnis yang fundamental,” ujar Zaenal.

Oleh karena itu, lanjut Zaenal, orientasi pelatihan ini lebih menitikberatkan pada pembentukan mentalitas kewirausahaan yang adaptif terhadap kegagalan, sekaligus mengikis persepsi keliru di sebagian masyarakat bahwa partisipasi dalam pelatihan pemerintah bertujuan untuk mendapatkan bantuan modal secara instan.

Dalam program pembekalan yang menghadirkan narasumber dari jaringan Genpro Kota Tegal ini, para peserta dibimbing secara taktis dalam menyusun draf perencanaan formal. Materi yang diberikan meliputi perumusan visi usaha, pemetaan target pasar yang spesifik, tata kelola arus kas keuangan, hingga manajemen pengelolaan sumber daya manusia (SDM) pada skala mikro.

Overkapasitas dan Rob Melanda, Kelayakan Lapas Tegal Mendesak Dievaluasi

Overkapasitas dan Rob Melanda, Kelayakan Lapas Tegal Mendesak Dievaluasi

Kondisi kelebihan kapasitas (overload) dan penurunan kualitas fasilitas di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Tegal, Jawa Tengah, dinilai memerlukan penanganan lintas sektoral secara cepat. Kerja sama antara Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, serta Pemerintah Kota Tegal menjadi kunci utama dalam memitigasi risiko keamanan serta kesehatan para warga binaan.

Berdasarkan data terakhir, Lapas Kelas IIB Tegal yang memiliki kapasitas ideal untuk 150 orang saat ini harus menampung sebanyak 328 warga binaan. Jumlah tersebut terdiri atas 309 narapidana pria dan 19 narapidana wanita.

Wakil Ketua DPRD Kota Tegal Amiruddin saat melakukan kunjungan kerja ke Lapas Tegal pada Selasa (19/5/2026) menyatakan bahwa perbaikan dan pemenuhan kelayakan fasilitas di dalam lapas harus diletakkan sebagai prioritas utama guna mencegah potensi gangguan kamtibmas serta penularan penyakit.

“Kondisi fisik bangunan Lapas Kelas IIB Tegal yang merupakan struktur peninggalan masa kolonial ini sudah mengalami kerapuhan di berbagai sudut, termasuk pada jeruji besi dan dinding pembatas. Letaknya yang berada di pesisir pantai juga membuat kompleks lapas rentan terdampak banjir rob berkala,” ujar Amiruddin di Kota Tegal, Selasa.

DPRD Kota Tegal menekankan pentingnya perhatian khusus pada aspek pemeliharaan kesehatan fisik dan mental warga binaan. Kondisi lingkungan yang lembap akibat banjir rob dinilai mempercepat penurunan tingkat kesehatan para penghuni lapas.

Amiruddin menambahkan, kebutuhan mendesak yang diperlukan lapas saat ini meliputi ketersediaan tenaga dokter yang memadai, pasokan obat-obatan, serta armada ambulans penunjang. Sebagai langkah taktis awal, Fraksi PKS DPRD Kota Tegal menyiapkan armada ambulans yang disiagakan untuk keperluan kedaruratan medis di lapas.

“Setiap warga binaan memiliki hak konstitusional untuk mendapatkan perawatan dan pemeriksaan kesehatan yang layak. Pemenuhan hak ini umumnya difasilitasi melalui klinik internal yang bekerja sama dengan tenaga medis formal, seperti dokter umum, perawat, dan bidan. Di sinilah kolaborasi antartingkat pemerintahan sangat diperlukan,” kata Amiruddin.

Rencana Relokasi Lahan

Kepala Lapas Kelas IIB Tegal Dewanto menyambut baik atensi yang diberikan oleh pimpinan DPRD Kota Tegal beserta Ketua Fraksi PKS DPRD Kota Tegal Abdul Ghoni yang turut hadir dalam kunjungan tersebut. Menurut Dewanto, koordinasi ini membuka ruang komunikasi strategis dalam mengatasi persoalan penataan kapasitas dan peningkatan fasilitas hunian.

Dewanto berharap jajaran legislatif dapat membantu memfasilitasi koordinasi dengan pemerintah daerah terkait peluang penyediaan lahan baru atau hibah tanah yang representatif. Langkah relokasi dinilai menjadi solusi jangka panjang terbaik agar bangunan lapas yang baru bebas dari ancaman banjir rob, sekaligus menjamin standar keamanan, kenyamanan, dan sanitasi yang sehat bagi warga binaan.

“Kunjungan ini sangat membantu kami, terutama dengan adanya dukungan armada ambulans serta komitmen pencarian terobosan pemenuhan fasilitas kesehatan dasar di dalam lapas,” kata Dewanto.

Dari pertemuan tersebut, dicapai kesepakatan normatif bahwa DPRD Kota Tegal akan mendorong jajaran eksekutif di tingkat daerah untuk bersama-sama merumuskan skema penanganan overkapasitas dan melengkapi fasilitas penunjang yang mendesak

Erni Ratnani Salurkan Bantuan Pengeras Suara untuk Kelompok Pengajian

Erni Ratnani Salurkan Bantuan Pengeras Suara untuk Kelompok Pengajian

Penguatan sarana syiar keagamaan dan silaturahmi kemasyarakatan di tingkat akar rumput terus ditingkatkan di Kota Tegal, Jawa Tengah. Sebanyak delapan unit perangkat pengeras suara (sound system) diserahkan kepada kelompok-kelompok pengajian yang tersebar di wilayah Kecamatan Tegal Barat guna menunjang aktivitas sosial-keagamaan warga.

Penyerahan bantuan tersebut dilakukan secara simbolis oleh anggota DPRD Kota Tegal dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Hj Erni Ratnani SE MM, di Kantor Kecamatan Tegal Barat, Senin (11/5/2026). Pengadaan bantuan ini bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Tegal melalui alokasi dana pokok-pokok pikiran (Pokir) anggota legislatif.

Erni Ratnani menjelaskan, penyaluran bantuan ini merupakan respons atas aspirasi masyarakat, khususnya kelompok ibu-ibu pengajian yang selama ini terkendala oleh keterbatasan fasilitas pendukung saat melaksanakan kegiatan rutin. Ia berharap bantuan ini tidak hanya dilihat sebagai alat fisik, tetapi sebagai sarana untuk mempererat kerukunan warga.

“Kami menyadari bahwa pengajian bukan sekadar aktivitas ibadah, melainkan ruang interaksi sosial bagi warga di setiap kelurahan. Dengan sarana yang lebih memadai, diharapkan syiar keagamaan semakin lancar dan pesan-pesan kebaikan dapat tersampaikan dengan jelas kepada jamaah,” ujar Erni di sela-sela penyerahan bantuan.

Dukungan APBD

Lebih lanjut, Erni menekankan bahwa penggunaan anggaran APBD melalui jalur pokok-pokok pikiran dewan harus benar-benar menyentuh kebutuhan dasar komunitas. Menurut dia, penguatan fasilitas di tingkat kelurahan adalah investasi sosial untuk menjaga kohesi di tengah masyarakat.

Langkah ini mendapat apresiasi dari para penerima manfaat. Nurjanah, salah satu perwakilan Majelis Taklim Ummu Nusaibah dari Pesurungan Kidul, menyatakan rasa syukur atas bantuan yang telah lama dinantikan oleh kelompoknya tersebut. Selama ini, mereka kerap harus menyewa atau meminjam alat secara bergantian dengan kelompok lain.

“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Erni atas perhatiannya. Selama ini kami cukup kesulitan jika ada acara besar karena keterbatasan alat. Kami berharap bantuan ini menjadi berkah dan membuat jamaah semakin semangat untuk hadir dalam kegiatan-kegiatan di lingkungan,” kata Nurjanah.

Dengan diserahkannya bantuan tersebut, seluruh kelurahan di wilayah Tegal Barat kini memiliki tambahan fasilitas pendukung keagamaan. Pemerintah kota dan legislatif berharap aset tersebut dapat dijaga dan dimanfaatkan secara optimal untuk kepentingan publik secara luas.

Erni Ratnani Dorong Kemandirian Ekonomi Perempuan Tegal

Erni Ratnani Dorong Kemandirian Ekonomi Perempuan Tegal

Sebanyak 25 perempuan di Tegal Barat didorong untuk memperkuat ketahanan ekonomi keluarga melalui kepemilikan keterampilan wirausaha. Langkah ini diambil sebagai upaya strategis menekan angka kerentanan ekonomi di tingkat rumah tangga dengan mengoptimalkan peran produktif ibu rumah tangga.

Inisiasi tersebut diwujudkan melalui Pelatihan Tata Boga yang berlangsung pada Senin (4/5/2026) hingga Rabu (6/5/2026) di Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Astika. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi anggota DPRD Kota Tegal dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Hj Erni Ratnani SE MM, bersama Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DPPKB2PA) Kota Tegal.

Erni Ratnani menegaskan, peningkatan kapasitas perempuan di bidang kuliner bukan sekadar memberikan keterampilan teknis, melainkan investasi jangka panjang bagi stabilitas ekonomi lokal. Dengan penguasaan pembuatan aneka kue dan bolu, peserta memiliki modal konkret untuk memulai unit usaha mikro dari rumah.

“Tujuannya adalah menumbuhkan pelaku usaha baru di kalangan ibu-ibu demi memperkuat struktur ekonomi keluarga. Namun, ada nilai humanis yang tidak boleh ditinggalkan: setinggi apa pun keterampilan wirausaha yang dimiliki, peran utama sebagai istri dan ibu dalam mendidik anak tetap yang utama. Keduanya harus selaras,” ujar Erni di Tegal, Selasa (5/5/2026).

Secara teknis, pelatihan ini didanai melalui alokasi anggaran pokok-pokok pikiran (Pokir) anggota legislatif. Kepala DPPKB2PA Kota Tegal, dr Rofiqoh, menilai langkah ini sebagai bentuk ketepatan sasaran dalam penggunaan anggaran daerah untuk pemberdayaan masyarakat.

“Intervensi melalui pelatihan seperti ini sangat penting agar perempuan lebih produktif. Kami mengapresiasi inisiatif legislatif yang fokus pada pengembangan SDM, sehingga anggaran pokir memberikan dampak langsung pada peningkatan standar hidup masyarakat,” kata Rofiqoh.

Selama tiga hari, peserta tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga praktik intensif. Hal ini bertujuan agar standar kualitas produk yang dihasilkan nantinya memiliki daya saing di pasar.

Ketua LPK Astika, Thohiroh, menambahkan bahwa keterlibatan lembaga pelatihan profesional memastikan peserta mendapatkan pendampingan yang akurat secara teknis. Sinergi antara pembuat kebijakan dan lembaga pelatihan diharapkan mampu mencetak wirausaha baru yang tangguh di sektor kuliner Kota Tegal.

 

Copyright © 2026