Menambal Jaring Pengaman Sosial: Dari Salah Sasaran Desil hingga Mentalitas Kontributor

Menambal Jaring Pengaman Sosial: Dari Salah Sasaran Desil hingga Mentalitas Kontributor

Ketepatan sasaran bantuan sosial sering menjadi paradoks di tengah upaya pengentasan kemiskinan. Di berbagai daerah, termasuk Kota Tegal, pemandangan ironis ini masih kerap ditemui: warga yang secara ekonomi berkecukupan justru tercatat sebagai penerima bantuan, sementara buruh harian lepas harus gigit jari karena namanya tidak masuk dalam daftar.

Fenomena tidak tepat sasaran ini berpangkal dari belum rapinya pendataan yang menggunakan sistem klaster kesejahteraan. Sistem ini dikelola melalui Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) Badan Pusat Statistik (BPS) untuk memetakan kondisi masyarakat secara nasional yang berlaku secara resmi sejak 19 Februari 2025, menyusul terbitnya Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 4 Tahun 2025 yang mulai berlaku pada awal Februari 2025.

Pemutrakhiran DTSEN sampai sejauh ini masih terus dibenahi oleh Kemensos agar semakin menggambarkan kondisi masyarakat secara nyata dan dapat menjadi fondasi kebijakan pemerintah yang lebih tepat sasaran. Masyarakat pun dapat ikut memperbarui data melalui kanal resmi, seperti Cek Bansos Kemensos, SIKS-NG melalui operator desa/kelurahan, dan Cek DTSEN BPS.

Klasifikasi kesejahteraan dalam DTSEN dibagi ke dalam sepuluh kelompok atau desil, di mana masing-masing mencakup sekitar sepuluh persen dari total populasi. Berdasarkan basis data tersebut, Desil 1 merepresentasikan kelompok sangat miskin atau sepuluh persen termiskin, Desil 2 hingga 3 mencakup kelompok miskin dan hampir miskin, Desil 4 diisi oleh kelompok rentan miskin, Desil 5 sampai 8 dikategorikan sebagai kelompok menengah, dan Desil 9 hingga 10 merupakan kelompok sangat mapan atau kaya.

Klasifikasi ini sebenarnya dirumuskan berdasarkan proxy-means testing. Abhijit Banerjee dalam Journal of Public Economics Plus (2020), mendefinisikan proxy-means testing sebagai metode untuk menentukan kelayakan rumah tangga dalam program pengentasan kemiskinan yang digunakan pemerintah di negara-negara berkembang. Karena pendapatan riil sulit diverifikasi, pemerintah melakukan sensus aset dari pintu ke pintu, lalu memasukkannya ke dalam formula matematis untuk memprediksi tingkat pengeluaran atau kesejahteraan per kapita warga.

Kendati dirancang secara sistematis dengan metodologi ilmiah, gap antara angka di atas kertas dan realitas di lapangan masih sangat lebar. Perbedaan ini biasanya timbul karena dinamika sosial ekonomi yang bergerak jauh lebih cepat daripada pemutakhiran data. Ada warga yang saat didata beberapa tahun lalu masuk kategori miskin, kini sudah mapan tetapi datanya tidak pernah diperbarui. Sebaliknya, ada pula keluarga yang jatuh miskin akibat PHK atau sakit kronis, namun terlewat dari proses pendataan berkala. Faktor subjektivitas saat pendataan di tingkat lokal serta ego sektoral juga turut memperkeruh akurasi data.

Dampak dari pembiaran persoalan ini sangat destruktif bagi tatanan sosial dan fiskal negara. Pertama, anggaran pendapatan dan belanja negara terkuras sia-sia untuk subsidi yang tidak tepat sasaran, sehingga negara kehilangan ruang fiskal yang lebih luas untuk membangun infrastruktur produktif. Kedua, ketimpangan data ini memicu kecemburuan sosial yang merusak kohesi dan solidaritas di tingkat akar rumput. Warga yang benar-benar membutuhkan merasa dikhianati oleh sistem, sementara pihak yang mampu kehilangan rasa malu saat menikmati hak yang bukan miliknya. Jika dibiarkan berlarut-larut, kepercayaan publik terhadap legitimasi program pemerintah akan runtuh secara perlahan.

Mengatasi persoalan ini menuntut kombinasi antara reformasi birokrasi data dan pergeseran paradigma mentalitas warga. Langkah paling mendesak di tingkat akar rumput adalah memperkuat mekanisme musyawarah di level kelurahan yang transparan dan partisipatif. Warga perlu diberi ruang dan keberanian untuk melakukan verifikasi serta validasi silang secara terbuka. Sistem pengaduan digital yang mudah diakses juga perlu disebarluaskan agar masyarakat dapat melaporkan anomali data di lingkungan sekitarnya tanpa rasa takut. Bagi warga yang terlanjur terdata tidak tepat sasaran namun sebenarnya sudah berkecukupan, sudah saatnya membangun kesadaran kolektif untuk secara sukarela menolak atau mengembalikan bantuan tersebut kepada yang lebih berhak.

Di sinilah pentingnya sebuah revolusi mental yang mendasar: mengubah orientasi masyarakat dari mentalitas penerima bantuan (recipient mindset) menuju mentalitas memberi atau berkontribusi (contributor mindset). Selama ini, bantuan sosial sering kali dipandang sebagai hak mutlak yang harus didapat, tanpa peduli apakah kondisinya sudah layak mandiri atau belum. Mentalitas ini menciptakan ketergantungan kronis dan mematikan daya juang warga.

Ketika seseorang mulai bergeser cara pandangnya menjadi pemberi, ukuran keberhasilan hidup tidak lagi dihitung dari seberapa banyak bantuan sosial yang berhasil dicairkan, melainkan dari seberapa besar kemandirian yang telah dicapai dan seberapa banyak tetangga sekitar yang berhasil dibantu. Warga yang sudah mulai mapan harus didorong untuk keluar dari daftar penerima dan masuk ke dalam ekosistem filantropi lokal.

Pemerintah dan komunitas lokal sudah saatnya menggalakkan kampanye kebanggaan sosial berbasis kemandirian. Keluar dari desil bawah dan mencopot status sebagai penerima bantuan sosial harus dirayakan sebagai sebuah prestasi ekonomi, bukan justru disembunyikan karena takut kehilangan fasilitas.

 

Ali Irfan – Dosen – Tenaga Ahli Fraksi PKS DPRD Kota Tegal

*) Artikel ini telah diterbitkan di Radar Tegal, 10 September 2026

 

TOP: Langkah Nyata Membangun Perubahan Dimulai dari Sini

TOP: Langkah Nyata Membangun Perubahan Dimulai dari Sini

Selama ini, kita sering kali menjadi penonton di pinggir lapangan politik. Menilai dari kejauhan, mengomentari setiap kebijakan, atau sekadar berandai-andai tentang bagaimana seharusnya negeri ini diurus. Padahal, perubahan besar tidak pernah lahir dari bangku penonton; ia lahir dari keberanian untuk turun tangan. Di sinilah Partai Keadilan Sejahtera (PKS) memanggil Anda untuk melangkah lebih dekat, bukan lagi sebagai pengamat, melainkan sebagai penggerak.

Banyak yang bertanya, apa untungnya bergabung dengan PKS? Jawabannya sederhana: PKS bukan sekadar partai politik, melainkan rumah kolaborasi bagi siapa saja yang peduli pada masa depan bangsa. PKS butuh energi segar, butuh pemikiran kritis, dan butuh tangan-tangan profesional yang ingin membawa perbaikan nyata.

Melihat politik hanya dari luar ibarat membaca buku dari sampulnya. Masuk dan bergabung dengan PKS adalah cara terbaik untuk meluruskan berbagai persepsi yang kerap berseliweran di ruang publik. Anda akan melihat langsung bagaimana sebuah gerakan dakwah dan politik bekerja dari dalam—murni melayani dan berorientasi pada kebaikan umat serta bangsa.

Lebih dari itu, PKS menyediakan ekosistem yang luas untuk mengasah dan menyalurkan potensi terbaik Anda. Apakah Anda seorang desainer andal yang siap berkarya di bidang komunikasi digital, seorang yang memiliki kepedulian tinggi pada isu perempuan dan ketahanan keluarga, atau pelaku wirausaha yang ingin menggerakkan ekonomi umat? PKS memiliki wadah terspesifikasi untuk semua itu. Dari bidang seni budaya hingga pengembangan kepemimpinan dan pelatihan anggota, ruang untuk berekspresi dan bertumbuh tersedia sangat luas. Satu-satunya hal yang kurang di dalam ekosistem ini adalah kehadiran Anda.

Bagi Anda yang menyimpan gagasan besar, ide-ide segar, dan kerinduan akan perubahan yang substansial, PKS adalah saluran yang tepat untuk mengalirkan energi positif tersebut. Setiap pemikiran konstruktif dihargai, dan setiap ikhtiar perbaikan selalu mendapat tempat untuk diwujudkan.

Langkah pertama untuk memulai perjalanan bermakna ini sangatlah mudah. Training Orientasi Partai (TOP) hadir sebagai gerbang utama. Di sinilah Anda akan menemukan jawaban utuh mengenai alasan mendasar mengapa PKS ada, ke mana arah perjuangannya, dan mengapa kehadiran Anda di dalamnya menjadi begitu penting.

Jangan cuma menonton perubahan terjadi. Jadilah bagian dari motor penggeraknya. Daftarkan diri Anda di Training Orientasi Partai, kenali PKS lebih dekat, dan mari bersama-sama menghadirkan kebaikan yang lebih luas untuk Indonesia. []

 

Irfan Ali

Ketua Bidang Pelatihan dan Pengembangan Kepemimpinan Partai (BPPKP) DPD PKS Kota Tegal

Rindu Menanti Panen Raya Ramadhan

Rindu Menanti Panen Raya Ramadhan

Oleh: H. Amiruddin, Lc
Wakil Ketua DPRD Kota Tegal

Saudaraku yang dirahmati Allah. Waktu bergulir begitu cepat, seakan tak memberi jeda bagi kita untuk sekadar menoleh ke belakang. Namun, bagi hati yang hidup, perputaran waktu adalah sinyal kerinduan.

Jauh sebelum hilal Ramadhan tampak di ufuk, para Salafus Shalih telah sibuk menanti hati. Mereka tidak menunggu tamu agung itu mengetuk pintu; mereka telah menggelar karpet merah penyambutan sejak enam bulan sebelumnya.

Ada sebuah ungkapan sarat hikmah yang sering disampaikan para ulama, yaitu “Bulan Rajab adalah bulan menanam benih, bulan Sya’ban adalah bulan menyirami tanaman, dan bulan Ramadhan adalah bulan memanen tanaman.”

Bayangkan, saudara-saudariku. Bagaimana mungkin kita berharap panen raya yang melimpah di bulan Ramadhan—berupa ampunan dan pahala yang berlipat ganda—jika di bulan-bulan sebelumnya tanah hati kita gersang, tak pernah ditanami, dan tak pernah disirami?

Sejarah mencatat kisah-kisah menakjubkan tentang persiapan ini. Seorang ulama besar, Habib bin Abi Tsabit, ketika memasuki bulan Sya’ban, beliau akan berkata, “Ini adalah bulannya para Qurra’ (pembaca Al-Qur’an).” Beliau dan kaum shalihin lainnya mulai menutup kedai-kedai mereka, mengurangi kesibukan duniawi, dan mulai ‘pemanasan’ dengan memperbanyak interaksi bersama Al-Qur’an.

Mereka paham betul kaidah fisik dan ruhani: seorang atlet lari tidak akan langsung berlari kencang tanpa pemanasan. Jika dipaksakan, ia akan cedera.

Begitu pula Ramadhan. Banyak dari kita yang “cedera” (lelah, futur, dan bosan) di pertengahan Ramadhan karena kaget memulai ibadah tanpa pemanasan di bulan Rajab dan Sya’ban.

Sukses Ramadhan tidak ditentukan pada malam pertama Ramadhan, melainkan ditentukan sejak hari ini. Sejak niat itu dipancang kuat-kuat.

DOA SANG PERINDU

Saudara-saudariku sekalian, di antara bekal utama kita adalah doa. Hati yang rindu pasti akan merengek kepada Rabb-nya. Salah satu doa masyhur yang sering dilantunkan para ulama untuk menyambung nyawa spiritual kita hingga gerbang Ramadhan adalah:
“Allahumma baarik lanaa fii Rajaba wa Sya’bana wa ballighnaa Ramadhan.”
Artinya: “Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah usia kami hingga bulan Ramadhan.”

Segenap kaum muslimin serta muslimat Kota Tegal dan dimanapun berada, mari kita persiapkan “rumah” hati kita.
Bersihkan debu-debu dosa dengan istighfar, hiasi dindingnya dengan tilawah Al-Qur’an, dan bentangkan seluas-luasnya harapan untuk selalu diridhai oleh Allah SWT.

Semoga Allah mengizinkan kita bukan hanya sekadar bertemu Ramadhan, tetapi menjadi pemenang sejati di dalamnya. Wallahu a’lam bish-shawab. (*)

Serumah Tapi Tak Sejiwa

Serumah Tapi Tak Sejiwa

Indonesia menempati urutan ketiga sebagai fatherless country dalam pengasuhan anak. Fenomena fatherless ini dialami oleh 1 dari 5 anak Indonesia. Dampaknya sangat serius—dari krisis kepercayaan diri hingga risiko perilaku menyimpang.

Data UNICEF 2021 menunjukkan sekitar 20,9 persen anak Indonesia kehilangan peran ayah dalam kehidupannya. Riset Kompas menunjukkan ada sekitar 15,9 juta anak Indonesia yang berpotensi tumbuh tanpa figur ayah. BPS mencatat hanya 37,17 persen anak usia 0–5 tahun yang tinggal bersama kedua orang tua kandung.

Fatherless merupakan istilah yang di mana seorang anak hidup hanya bersama dengan ibunya tanpa kehadiran ayah, baik secara fisik maupun psikologis. Ayah menjadi sosok yang sering disebut, tetapi makin jarang dirasakan. Ada di rumah, tapi tak hadir dalam cerita. Menafkahi, tapi tak menenangkan. Berbicara, tapi tak benar-benar menyapa.

Ketiadaan peran ayah karena ia hanya hadir secara fisik dan tidak terlibat dalam masalah tumbuh kembang anak. Indikasi tersebut didasarkan pada jumlah waktu yang dihabiskan ayah untuk berkomunikasi dengan anak-anak mereka.  Semakin sedikit waktu untuk berkomunikasi dengan anak, maka semakin kuat negeri tersebut disebut sebagai fatherless country.

Osmond (2010) mengartikan bahwa fatherless merupakan kondisi di mana seorang individu tidak secara fisik maupun emosional Bersama dengan ayahnya. Fatherless akan berpengaruh terhadap harga diri (self-esteem) yang rendah ketika ia dewasa, adanya perasaan marah, rasa malu, rasa kesepian, rasa cemburu, kedukaan, dan perasaan kehilangan yang ekstrim, yang disertai pula oleh rendahnya pengendalian diri (Lenner, 2011; Kruk, 2012)

Fenomena fatherless bukan hanya tentang ketiadaan fisik seorang ayah, melainkan absennya jiwa kepemimpinan yang seharusnya ditumbuhkan dalam diri anak. Banyak anak tumbuh dalam rumah lengkap, tapi batinnya yatim. Mereka punya sosok yang dipanggil Ayah, tapi tak tahu rasanya dipeluk dengan aman, didengar dengan sabar, atau dituntun dengan lembut. Tinggal serumah tapi tidak sejiwa.

Di zaman modern yang memuja kesibukan. Lembur dianggap cinta, gawai dijadikan pengganti tatapan. Lalu lahirlah generasi yang kehilangan arah. Di ruang makan yang seharusnya digunakan untuk membangun kelekatan, suasana sepi, ayah makan sambil menggulir layar, sementara anak diam sambil memendam tanya: Apakah aku berharga di matanya?

Ayah yang ideal bukanlah yang selalu tahu jawaban atas setiap pertanyaan, tapi yang bersedia hadir dalam tanya. Bukan seberapa lama kita bersama keluarga, tapi seberapa dalam kesan yang kita tinggalkan. Ia tak harus sempurna, cukup jujur. Tak mesti banyak bicara, asal hadir dengan hati yang utuh. Sebab bagi anak, rasa aman tak lahir dari uang saku, melainkan dari pelukan yang menegaskan: Aku ada bersamamu.

Menjadi ayah sejati adalah perjalanan pulang — dari ego menuju empati, dari gengsi menuju kedekatan. Saat ayah belajar menatap mata anaknya, di sanalah cinta menemukan bentuk yang paling sederhana namun paling kuat: kehadiran.

Peran ayah tidak hanya bersifat simbolik, tetapi krusial dalam pembentukan karakter anak. Kehadiran yang utuh merupakan bentuk tanggung jawab dan investasi jangka panjang bagi masa depan generasi penerus. Anak yang tumbuh di rumah yang penuh dengan limpahan kasih sayang, kecil kemungkinan menjadi pelaku kekerasan atau bullying. Jika ayah sebagai qawwam—penopang keluarga—kuat, maka sebesar apa pun masalah, keluarga akan tetap kokoh. Kedekatan kepada seorang ayah membuat anak tampil percaya diri dan dekat dengan seorang ibu membuat anak penuh kasih saying.

Zaman boleh berubah, tapi kebutuhan anak tak pernah usang — rasa aman, rasa diterima, rasa dicintai. Dan semua itu bermula dari satu sosok: seorang ayah yang memilih hadir, bukan sekadar tinggal.[]

 

Ali Irfan – Dosen. Ketua Bidang  Pelatihan dan Kepemimpinan Anggota Partai DPD PKS Kota Tegal

Artikel ini telah dimuat Radar Tegal Kamis, 13 November 2025.
Public Hearing Raperda Kawasan Tanpa Rokok: Momentum Partisipasi Publik

Public Hearing Raperda Kawasan Tanpa Rokok: Momentum Partisipasi Publik

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tegal tengah menggodok sebuah regulasi yang diyakini menjadi langkah strategis bagi masa depan kesehatan masyarakat: Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Kawasan Tanpa Rokok. Menjelang digelarnya Uji Publik (Public Hearing) pada Senin malam ini, partisipasi dan masukan dari seluruh elemen masyarakat menjadi kunci untuk melahirkan peraturan yang efektif dan berpihak pada kepentingan jangka panjang.

Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPRD Kota Tegal menegaskan, Raperda ini bukan sekadar pembentukan aturan, melainkan sebuah investasi sosial untuk melindungi generasi sekarang dan yang akan datang dari berbagai dampak buruk rokok.

Fraksi PKS memandang bahwa hak untuk menghirup udara bersih dan sehat merupakan hak asasi yang fundamental. Kehadiran asap rokok di ruang-ruang publik secara inheren merampas hak tersebut, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, dan lansia.

“Hak masyarakat atas lingkungan hidup yang bersih, sehat, dan bebas dari asap rokok adalah bagian dari hak dasar yang harus dilindungi. Ini adalah mandat konstitusi dan kemanusiaan,” tegas Fraksi PKS.

Uji Publik yang akan diselenggarakan malam ini menjadi momentum penting bagi warga Kota Tegal untuk menyuarakan aspirasi dan gagasannya. Penetapan sebuah Perda yang menyangkut hajat hidup orang banyak tidak akan optimal tanpa keterlibatan aktif dari publik yang akan menjadi subjek utama dari peraturan tersebut.

Masyarakat diharapkan dapat memberikan masukan konstruktif mengenai beberapa aspek vital, seperti:

  • Lokasi spesifik yang perlu ditetapkan sebagai Kawasan Tanpa Rokok, misalnya area sekitar sekolah, fasilitas kesehatan, tempat ibadah, taman bermain anak, hingga angkutan umum.
  • Mekanisme pengawasan dan penegakan sanksi yang dianggap paling efektif dan adil.
  • Upaya sosialisasi dan edukasi agar Perda ini tidak hanya ditakuti karena sanksinya, tetapi juga dipahami sebagai kebutuhan bersama.

Kehadiran dan suara masyarakat dalam Public Hearing malam ini akan menjadi penentu arah dan kekuatan Perda Kawasan Tanpa Rokok di masa depan.

 

Warga Keberatan Sistem Baru RTLH

Warga Keberatan Sistem Baru RTLH

Warga penerima bantuan program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) merasa keberatan dengan sistem baru yang diterapkan. Penerima bantuan menerima material untuk pelaksanaan rehab, tetapi pencairan dana pembayaran tukang setelah rehab selesai dan diperiksa Tenaga Fasilitator Lapangan Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman (Disperkim) Kota Tegal.

Sistem tersebut membuat penerima bantuan mau tidak mau menyiapkan dana talangan untuk membayar tukang. Demikian disampaikan Anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tegal dari Fraksi PKS Rachmat Rahardjo, Kamis (3/6). Rachmat bebrapa waktu lalu memantau pelaksanaan program RTLH di wilayah Kecamatan Tegal Barat.

“Mekanisme ini berdampak penerima bantuan mau tidak mau harus menyiapkan dana tukang dulu. Sebab, tidak ada tukang yang mau bekerja dengan sistem bayarannya menunggu pencairan dana tukang dari dinas,” kata Rachmat.

Sembuh Setelah Bercakap-cakap dengan Al Quran

Sembuh Setelah Bercakap-cakap dengan Al Quran

Oleh Sinta Yudisia

Beberapa waktu lalu, saya mendapatkan pengalaman luar biasa yang kisahnya langsung saya share kepada anak-anak, dan merekapun terkesima. Kisah ini saya dapatkan ketika akhir tahun 2019 berkunjung ke kampung halaman suami, Tegal.

Namanya bu Nuning.

Saya biasa memanggilnya dengan nama mbak Nuning.
Seorang ibu luarbiasa yang tak pernah lepas senyum terpahat di bibir meski kesulitan hidup bertubi-tubi, berton-ton menghimpit. Kalau saya buat rekap kepahitan hidup; mungkin sepanjang beliau benafas, lebih besar bobot susah daripada senangnya. Ajaibnya, di setiap benturan kesulitan, selalu ada peristiwa luarbiasa yang membuat kita tergetar : Maha Besar Allah menitipkan sebagian ayat-Nya ke dalam kehidupan hamba-hamba pilihanNya.

Beberapa waktu lalu mbak Nuning bercerita, ia mengalami stroke. Separuh tubuhnya lumpuh, saraf mulutnya pun lumpuh total. 2 bulan ia mengalami stroke parah dan saya tak bisa bayangkan bagaimana ia jalani kehidupan sehari-hari.
Bayangkan, suaminya sakit dan mbak Nuning yang selama ini merawatnya. Suaminya juga pernah stroke dan hingga saat ini masih membutuhkan pendampingan. Kalau istri juga ikut-ikutan sakit, bagaimana nasib roda kehidupan mereka? Meski ada asuransi kesehatan, tentu tak dapat menutupi semua keperluan hidup dan sakit. Apalagi beli obat yang di luar tanggungan BPJS. Untuk makan sehari-haripun mereka seringkali harus bersabar dengan kondisi yang ada. Lumpuh? stroke? Tak bisa bicara? Ya Allah…
Dokter saraf yang baik hati menangani, memberikan dorongan pada keluarga mbak Nuning.

“Meski saraf mulutnya sudah hampir 100% kena, Ummi tetap harus diajak bicara,” kata dokter saraf, berpesan pada anak-anak mbak Nuning. “Pokoknya diajak bicara aja, diajak aktivitas semampunya.”

Kita tentu tahu, stroke butuh penanganan cepat dan tepat. Obat yang bagus, terapis andal, kontrol rutin. Tetapi semua biaya itu tak ditanggung asuransi, kan? Transportasi PP ke rumah sakit tentu biaya tersendiri, belum lagi yang lain-lain.
Masyaallah, meski hidup dalam kesulitan, Allah Swt memberikan mbak Nuning anak-anak yang sholih sholihah. Anda mungkin pernah melihat orang bisu atau tuli berbicara. Bahasanya aneh, bukan? Suaranya lantang, berteriak-teriak memekakkan telinga, kadang buat lawan bicara deg-degan atau malah kesal karena komunikasi tak nyambung. Begitulah mbak Nuning ketika mengalami stroke dan lumpuh mulutnya.
Salah seorang putranya memberikan semangat dan nasehat, “Ummi, Ummi memang harus terus belajar bicara. Ngajak orang bicara. Tapi lihat kan? Orang yang diajak bicara Ummi kadang kesal. Malah nggak suka karena Ummi ngomongnya gak jelas, sembarangan, orang juga nggak ngerti-ngerti apa yang Ummi bicarakan.”😓😥
Kurang lebih demikian kata si putra.

“Tapi Ummi harus terus ngomong, terus bicara, terus latihan bersuara. Daripada Ummi ngajak ngomong orang dan orang malah jengkel, kesal, marah; mending Ummi ngajak omong Al Quran saja,ya.”
Demikian bijak saran putra mbak Nuning.

Dulu, penelitian S1 saya tentang tunarungu. Anak-anak yang tak bica mendengar dan biasanya kesulitan bicara ini, memang suaranya sangat keras menggaung kemana-mana. Kadang orang yang diajak bicara sering tak sabar dan meminta mereka lebih baik pakai bahasa isyarat. Itu juga yang terjadi pada mbak Nuning. Ia tak dapat bicara, seperti orang bisu gagu karena stroke yang menyerang saraf mulutnya. Tetapi ia harus bicara kalau ingin sembuh. Dan, tak semua orang mau diajak bicara…😭
Mbak Nuning menuruti saran si putra. Setiap hari ia mengajak bicara Quran, bahkan sehari bisa 8 juz dibacanya Quran dan diajaknya bicara layaknya orang bercakap-cakap.
Saya nggak akan promosi suatu barang.

Tetapi demikianlah ceritanya.

Seiring mbak Nuning terus mengajak Quran ‘bicara’ ada orang yang membawakannya british propolis dan obat ini memang membantunya untuk sembuh. Mbak Nuning bukannya menganggap british propolis woooww banget. Bukan demikian!
Tetapi katanya, “ karena bicara dengan Quran, ada aja cara untuk sembuh. Salah satunya orang mengantarkan british propolis itu.”
Ketika saya bertemu mbak Nuning akhir Desember lalu, saya sama sekali nggak nyangka ia sempat stroke selama 2 bulan. Terkapar lumpuh dan bisu.

Inti kisah beliau yang saya simak betul-betul : “Kalau tak ada orang yang bisa diajak bicara, bicaralah dengan Quran. Nanti, Quran akan membantu mencarikan jalan kesembuhan –dengan izin Allah- lewat jalan yang dibukakan oleh seseorang atau sebuah peristiwa.”
Semoga, kita bisa rutin mengajak Quran berbicara ya?

Copyright © 2026