Rindu Menanti Panen Raya Ramadhan

Rindu Menanti Panen Raya Ramadhan

Oleh: H. Amiruddin, Lc
Wakil Ketua DPRD Kota Tegal

Saudaraku yang dirahmati Allah. Waktu bergulir begitu cepat, seakan tak memberi jeda bagi kita untuk sekadar menoleh ke belakang. Namun, bagi hati yang hidup, perputaran waktu adalah sinyal kerinduan.

Jauh sebelum hilal Ramadhan tampak di ufuk, para Salafus Shalih telah sibuk menanti hati. Mereka tidak menunggu tamu agung itu mengetuk pintu; mereka telah menggelar karpet merah penyambutan sejak enam bulan sebelumnya.

Ada sebuah ungkapan sarat hikmah yang sering disampaikan para ulama, yaitu “Bulan Rajab adalah bulan menanam benih, bulan Sya’ban adalah bulan menyirami tanaman, dan bulan Ramadhan adalah bulan memanen tanaman.”

Bayangkan, saudara-saudariku. Bagaimana mungkin kita berharap panen raya yang melimpah di bulan Ramadhan—berupa ampunan dan pahala yang berlipat ganda—jika di bulan-bulan sebelumnya tanah hati kita gersang, tak pernah ditanami, dan tak pernah disirami?

Sejarah mencatat kisah-kisah menakjubkan tentang persiapan ini. Seorang ulama besar, Habib bin Abi Tsabit, ketika memasuki bulan Sya’ban, beliau akan berkata, “Ini adalah bulannya para Qurra’ (pembaca Al-Qur’an).” Beliau dan kaum shalihin lainnya mulai menutup kedai-kedai mereka, mengurangi kesibukan duniawi, dan mulai ‘pemanasan’ dengan memperbanyak interaksi bersama Al-Qur’an.

Mereka paham betul kaidah fisik dan ruhani: seorang atlet lari tidak akan langsung berlari kencang tanpa pemanasan. Jika dipaksakan, ia akan cedera.

Begitu pula Ramadhan. Banyak dari kita yang “cedera” (lelah, futur, dan bosan) di pertengahan Ramadhan karena kaget memulai ibadah tanpa pemanasan di bulan Rajab dan Sya’ban.

Sukses Ramadhan tidak ditentukan pada malam pertama Ramadhan, melainkan ditentukan sejak hari ini. Sejak niat itu dipancang kuat-kuat.

DOA SANG PERINDU

Saudara-saudariku sekalian, di antara bekal utama kita adalah doa. Hati yang rindu pasti akan merengek kepada Rabb-nya. Salah satu doa masyhur yang sering dilantunkan para ulama untuk menyambung nyawa spiritual kita hingga gerbang Ramadhan adalah:
“Allahumma baarik lanaa fii Rajaba wa Sya’bana wa ballighnaa Ramadhan.”
Artinya: “Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah usia kami hingga bulan Ramadhan.”

Segenap kaum muslimin serta muslimat Kota Tegal dan dimanapun berada, mari kita persiapkan “rumah” hati kita.
Bersihkan debu-debu dosa dengan istighfar, hiasi dindingnya dengan tilawah Al-Qur’an, dan bentangkan seluas-luasnya harapan untuk selalu diridhai oleh Allah SWT.

Semoga Allah mengizinkan kita bukan hanya sekadar bertemu Ramadhan, tetapi menjadi pemenang sejati di dalamnya. Wallahu a’lam bish-shawab. (*)

Serumah Tapi Tak Sejiwa

Serumah Tapi Tak Sejiwa

Oleh: Ali Irfan

Dosen. Ketua Bidang  Pelatihan dan Kepemimpinan Anggota Partai DPD PKS Kota Tegal

 

Indonesia menempati urutan ketiga sebagai fatherless country dalam pengasuhan anak. Fenomena fatherless ini dialami oleh 1 dari 5 anak Indonesia. Dampaknya sangat serius—dari krisis kepercayaan diri hingga risiko perilaku menyimpang.

Data UNICEF 2021 menunjukkan sekitar 20,9 persen anak Indonesia kehilangan peran ayah dalam kehidupannya. Riset Kompas menunjukkan ada sekitar 15,9 juta anak Indonesia yang berpotensi tumbuh tanpa figur ayah. BPS mencatat hanya 37,17 persen anak usia 0–5 tahun yang tinggal bersama kedua orang tua kandung.

Fatherless merupakan istilah yang di mana seorang anak hidup hanya bersama dengan ibunya tanpa kehadiran ayah, baik secara fisik maupun psikologis. Ayah menjadi sosok yang sering disebut, tetapi makin jarang dirasakan. Ada di rumah, tapi tak hadir dalam cerita. Menafkahi, tapi tak menenangkan. Berbicara, tapi tak benar-benar menyapa.

Ketiadaan peran ayah karena ia hanya hadir secara fisik dan tidak terlibat dalam masalah tumbuh kembang anak. Indikasi tersebut didasarkan pada jumlah waktu yang dihabiskan ayah untuk berkomunikasi dengan anak-anak mereka.  Semakin sedikit waktu untuk berkomunikasi dengan anak, maka semakin kuat negeri tersebut disebut sebagai fatherless country.

Osmond (2010) mengartikan bahwa fatherless merupakan kondisi di mana seorang individu tidak secara fisik maupun emosional Bersama dengan ayahnya. Fatherless akan berpengaruh terhadap harga diri (self-esteem) yang rendah ketika ia dewasa, adanya perasaan marah, rasa malu, rasa kesepian, rasa cemburu, kedukaan, dan perasaan kehilangan yang ekstrim, yang disertai pula oleh rendahnya pengendalian diri (Lenner, 2011; Kruk, 2012)

Fenomena fatherless bukan hanya tentang ketiadaan fisik seorang ayah, melainkan absennya jiwa kepemimpinan yang seharusnya ditumbuhkan dalam diri anak. Banyak anak tumbuh dalam rumah lengkap, tapi batinnya yatim. Mereka punya sosok yang dipanggil Ayah, tapi tak tahu rasanya dipeluk dengan aman, didengar dengan sabar, atau dituntun dengan lembut. Tinggal serumah tapi tidak sejiwa.

Di zaman modern yang memuja kesibukan. Lembur dianggap cinta, gawai dijadikan pengganti tatapan. Lalu lahirlah generasi yang kehilangan arah. Di ruang makan yang seharusnya digunakan untuk membangun kelekatan, suasana sepi, ayah makan sambil menggulir layar, sementara anak diam sambil memendam tanya: Apakah aku berharga di matanya?

Ayah yang ideal bukanlah yang selalu tahu jawaban atas setiap pertanyaan, tapi yang bersedia hadir dalam tanya. Bukan seberapa lama kita bersama keluarga, tapi seberapa dalam kesan yang kita tinggalkan. Ia tak harus sempurna, cukup jujur. Tak mesti banyak bicara, asal hadir dengan hati yang utuh. Sebab bagi anak, rasa aman tak lahir dari uang saku, melainkan dari pelukan yang menegaskan: Aku ada bersamamu.

Menjadi ayah sejati adalah perjalanan pulang — dari ego menuju empati, dari gengsi menuju kedekatan. Saat ayah belajar menatap mata anaknya, di sanalah cinta menemukan bentuk yang paling sederhana namun paling kuat: kehadiran.

Peran ayah tidak hanya bersifat simbolik, tetapi krusial dalam pembentukan karakter anak. Kehadiran yang utuh merupakan bentuk tanggung jawab dan investasi jangka panjang bagi masa depan generasi penerus. Anak yang tumbuh di rumah yang penuh dengan limpahan kasih sayang, kecil kemungkinan menjadi pelaku kekerasan atau bullying. Jika ayah sebagai qawwam—penopang keluarga—kuat, maka sebesar apa pun masalah, keluarga akan tetap kokoh. Kedekatan kepada seorang ayah membuat anak tampil percaya diri dan dekat dengan seorang ibu membuat anak penuh kasih saying.

Zaman boleh berubah, tapi kebutuhan anak tak pernah usang — rasa aman, rasa diterima, rasa dicintai. Dan semua itu bermula dari satu sosok: seorang ayah yang memilih hadir, bukan sekadar tinggal.[]

Artikel ini telah dimuat Radar Tegal Kamis, 13 November 2025.
Public Hearing Raperda Kawasan Tanpa Rokok: Momentum Partisipasi Publik

Public Hearing Raperda Kawasan Tanpa Rokok: Momentum Partisipasi Publik

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tegal tengah menggodok sebuah regulasi yang diyakini menjadi langkah strategis bagi masa depan kesehatan masyarakat: Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Kawasan Tanpa Rokok. Menjelang digelarnya Uji Publik (Public Hearing) pada Senin malam ini, partisipasi dan masukan dari seluruh elemen masyarakat menjadi kunci untuk melahirkan peraturan yang efektif dan berpihak pada kepentingan jangka panjang.

Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPRD Kota Tegal menegaskan, Raperda ini bukan sekadar pembentukan aturan, melainkan sebuah investasi sosial untuk melindungi generasi sekarang dan yang akan datang dari berbagai dampak buruk rokok.

Fraksi PKS memandang bahwa hak untuk menghirup udara bersih dan sehat merupakan hak asasi yang fundamental. Kehadiran asap rokok di ruang-ruang publik secara inheren merampas hak tersebut, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, dan lansia.

“Hak masyarakat atas lingkungan hidup yang bersih, sehat, dan bebas dari asap rokok adalah bagian dari hak dasar yang harus dilindungi. Ini adalah mandat konstitusi dan kemanusiaan,” tegas Fraksi PKS.

Uji Publik yang akan diselenggarakan malam ini menjadi momentum penting bagi warga Kota Tegal untuk menyuarakan aspirasi dan gagasannya. Penetapan sebuah Perda yang menyangkut hajat hidup orang banyak tidak akan optimal tanpa keterlibatan aktif dari publik yang akan menjadi subjek utama dari peraturan tersebut.

Masyarakat diharapkan dapat memberikan masukan konstruktif mengenai beberapa aspek vital, seperti:

  • Lokasi spesifik yang perlu ditetapkan sebagai Kawasan Tanpa Rokok, misalnya area sekitar sekolah, fasilitas kesehatan, tempat ibadah, taman bermain anak, hingga angkutan umum.
  • Mekanisme pengawasan dan penegakan sanksi yang dianggap paling efektif dan adil.
  • Upaya sosialisasi dan edukasi agar Perda ini tidak hanya ditakuti karena sanksinya, tetapi juga dipahami sebagai kebutuhan bersama.

Kehadiran dan suara masyarakat dalam Public Hearing malam ini akan menjadi penentu arah dan kekuatan Perda Kawasan Tanpa Rokok di masa depan.

 

Warga Keberatan Sistem Baru RTLH

Warga Keberatan Sistem Baru RTLH

Warga penerima bantuan program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) merasa keberatan dengan sistem baru yang diterapkan. Penerima bantuan menerima material untuk pelaksanaan rehab, tetapi pencairan dana pembayaran tukang setelah rehab selesai dan diperiksa Tenaga Fasilitator Lapangan Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman (Disperkim) Kota Tegal.

Sistem tersebut membuat penerima bantuan mau tidak mau menyiapkan dana talangan untuk membayar tukang. Demikian disampaikan Anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tegal dari Fraksi PKS Rachmat Rahardjo, Kamis (3/6). Rachmat bebrapa waktu lalu memantau pelaksanaan program RTLH di wilayah Kecamatan Tegal Barat.

“Mekanisme ini berdampak penerima bantuan mau tidak mau harus menyiapkan dana tukang dulu. Sebab, tidak ada tukang yang mau bekerja dengan sistem bayarannya menunggu pencairan dana tukang dari dinas,” kata Rachmat.

Sembuh Setelah Bercakap-cakap dengan Al Quran

Sembuh Setelah Bercakap-cakap dengan Al Quran

Oleh Sinta Yudisia

Beberapa waktu lalu, saya mendapatkan pengalaman luar biasa yang kisahnya langsung saya share kepada anak-anak, dan merekapun terkesima. Kisah ini saya dapatkan ketika akhir tahun 2019 berkunjung ke kampung halaman suami, Tegal.

Namanya bu Nuning.

Saya biasa memanggilnya dengan nama mbak Nuning.
Seorang ibu luarbiasa yang tak pernah lepas senyum terpahat di bibir meski kesulitan hidup bertubi-tubi, berton-ton menghimpit. Kalau saya buat rekap kepahitan hidup; mungkin sepanjang beliau benafas, lebih besar bobot susah daripada senangnya. Ajaibnya, di setiap benturan kesulitan, selalu ada peristiwa luarbiasa yang membuat kita tergetar : Maha Besar Allah menitipkan sebagian ayat-Nya ke dalam kehidupan hamba-hamba pilihanNya.

Beberapa waktu lalu mbak Nuning bercerita, ia mengalami stroke. Separuh tubuhnya lumpuh, saraf mulutnya pun lumpuh total. 2 bulan ia mengalami stroke parah dan saya tak bisa bayangkan bagaimana ia jalani kehidupan sehari-hari.
Bayangkan, suaminya sakit dan mbak Nuning yang selama ini merawatnya. Suaminya juga pernah stroke dan hingga saat ini masih membutuhkan pendampingan. Kalau istri juga ikut-ikutan sakit, bagaimana nasib roda kehidupan mereka? Meski ada asuransi kesehatan, tentu tak dapat menutupi semua keperluan hidup dan sakit. Apalagi beli obat yang di luar tanggungan BPJS. Untuk makan sehari-haripun mereka seringkali harus bersabar dengan kondisi yang ada. Lumpuh? stroke? Tak bisa bicara? Ya Allah…
Dokter saraf yang baik hati menangani, memberikan dorongan pada keluarga mbak Nuning.

“Meski saraf mulutnya sudah hampir 100% kena, Ummi tetap harus diajak bicara,” kata dokter saraf, berpesan pada anak-anak mbak Nuning. “Pokoknya diajak bicara aja, diajak aktivitas semampunya.”

Kita tentu tahu, stroke butuh penanganan cepat dan tepat. Obat yang bagus, terapis andal, kontrol rutin. Tetapi semua biaya itu tak ditanggung asuransi, kan? Transportasi PP ke rumah sakit tentu biaya tersendiri, belum lagi yang lain-lain.
Masyaallah, meski hidup dalam kesulitan, Allah Swt memberikan mbak Nuning anak-anak yang sholih sholihah. Anda mungkin pernah melihat orang bisu atau tuli berbicara. Bahasanya aneh, bukan? Suaranya lantang, berteriak-teriak memekakkan telinga, kadang buat lawan bicara deg-degan atau malah kesal karena komunikasi tak nyambung. Begitulah mbak Nuning ketika mengalami stroke dan lumpuh mulutnya.
Salah seorang putranya memberikan semangat dan nasehat, “Ummi, Ummi memang harus terus belajar bicara. Ngajak orang bicara. Tapi lihat kan? Orang yang diajak bicara Ummi kadang kesal. Malah nggak suka karena Ummi ngomongnya gak jelas, sembarangan, orang juga nggak ngerti-ngerti apa yang Ummi bicarakan.”😓😥
Kurang lebih demikian kata si putra.

“Tapi Ummi harus terus ngomong, terus bicara, terus latihan bersuara. Daripada Ummi ngajak ngomong orang dan orang malah jengkel, kesal, marah; mending Ummi ngajak omong Al Quran saja,ya.”
Demikian bijak saran putra mbak Nuning.

Dulu, penelitian S1 saya tentang tunarungu. Anak-anak yang tak bica mendengar dan biasanya kesulitan bicara ini, memang suaranya sangat keras menggaung kemana-mana. Kadang orang yang diajak bicara sering tak sabar dan meminta mereka lebih baik pakai bahasa isyarat. Itu juga yang terjadi pada mbak Nuning. Ia tak dapat bicara, seperti orang bisu gagu karena stroke yang menyerang saraf mulutnya. Tetapi ia harus bicara kalau ingin sembuh. Dan, tak semua orang mau diajak bicara…😭
Mbak Nuning menuruti saran si putra. Setiap hari ia mengajak bicara Quran, bahkan sehari bisa 8 juz dibacanya Quran dan diajaknya bicara layaknya orang bercakap-cakap.
Saya nggak akan promosi suatu barang.

Tetapi demikianlah ceritanya.

Seiring mbak Nuning terus mengajak Quran ‘bicara’ ada orang yang membawakannya british propolis dan obat ini memang membantunya untuk sembuh. Mbak Nuning bukannya menganggap british propolis woooww banget. Bukan demikian!
Tetapi katanya, “ karena bicara dengan Quran, ada aja cara untuk sembuh. Salah satunya orang mengantarkan british propolis itu.”
Ketika saya bertemu mbak Nuning akhir Desember lalu, saya sama sekali nggak nyangka ia sempat stroke selama 2 bulan. Terkapar lumpuh dan bisu.

Inti kisah beliau yang saya simak betul-betul : “Kalau tak ada orang yang bisa diajak bicara, bicaralah dengan Quran. Nanti, Quran akan membantu mencarikan jalan kesembuhan –dengan izin Allah- lewat jalan yang dibukakan oleh seseorang atau sebuah peristiwa.”
Semoga, kita bisa rutin mengajak Quran berbicara ya?

Copyright © 2026