Zaenal Nurohman, Anggota Dewan yang memilih Menyatu bersama Barisan Kepanduan! bukan di panggung VIP Pejabat

Zaenal Nurohman, Anggota Dewan yang memilih Menyatu bersama Barisan Kepanduan! bukan di panggung VIP Pejabat

Langit pagi di Komplek Taman Pancasila, Kota Tegal, Senin (17/8/2026), tampak cerah membingkai khidmatnya upacara peringatan Hari Ulang Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81. Di tengah deretan tamu undangan VVIP, pejabat eselon II, hingga Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) yang duduk tenang di kursi kehormatan, ada pemandangan yang berbeda dan menyita perhatian.

Di barisan lapangan, berpanas-panas di antara barisan peserta upacara, berdiri tegap seorang pria berseragam lengkap Tim Kepanduan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Tegal. Dia bukan prajurit muda biasa yang baru meniti baris-berbaris. Sosok itu adalah Zaenal Nurohman—pria yang hari-hari ini juga mengemban amanah sebagai Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tegal.

Bagi seorang legislator, kursi empuk di panggung kehormatan adalah hak protokol yang wajar dan lazim didapatkan. Namun, Zaenal memilih jalan yang berbeda. Hari itu, ia menanggalkan atribut kedewanan dan memilih melebur seutuhnya bersama satu kompi kader Kepanduan PKS Kota Tegal.

Keputusan ini berawal dari undangan resmi Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kota Tegal Nomor 400.14.1.1/556 tertanggal 14 Agustus 2026. Surat itu memuat permohonan pengiriman satu kompi peserta upacara dari kalangan organisasi partai politik. Sebagai Ketua DPD PKS Kota Tegal, Zaenal tidak sekadar mendisposisikan surat tersebut kepada kader di bawahnya. Ia justru memimpin langsung dengan turun ke lapangan sebagai peserta.

Kepada rekan-rekan sesama anggota DPRD Kota Tegal dari Fraksi PKS, ia sempat mengirimkan pesan singkat yang merefleksikan ketulusannya:

“Mohon izin teman-teman, saya ikut barisan DPD PKS dalam Upacara HUT RI besok. Insya Allah DPD mengirimkan 1 pleton peserta upacara menggunakan seragam Kepanduan PKS.”

Di balik kesahajaan itu, persiapan yang dilakukan terbilang singkat—hanya dua hari. Namun, keterbatasan waktu sama sekali tidak menyurutkan semangat kebersamaan. Bagi Zaenal, berdiri di barisan terdepan bersama kader bukan sekadar pemenuhan undangan seremonial, melainkan sebuah ikhtiar merawat solidaritas dan kekompakan menyongsong masa depan partai.

Di bawah terik matahari Taman Pancasila, langkah kaki Zaenal bersama barisan kepanduan menyatu dengan derap langkah ribuan warga Kota Tegal lainnya. Sebuah pemandangan humanis yang mengingatkan kita bahwa kemerdekaan sejati lahir dari peleburan ego, duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan rakyat, serta menjiwai esensi kepemimpinan yang melayani dari bawah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2026