Membangun kelekatan dan komunikasi efektif di dalam keluarga dinilai krusial di tengah pesatnya disrupsi teknologi digital dan tantangan media sosial. Orangtua dituntut untuk terus beradaptasi, memahami dinamika psikologis anak, serta hadir secara fisik maupun emosional dalam setiap fase tumbuh kembang.
Hal tersebut ditegaskan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tegal H. Amiruddin, L c saat memberikan arahan dalam seminar pengasuhan bertajuk ”Anak Tidak Butuh Orangtua yang Sempurna, Anak Butuh Keluarga yang Hadir: Membangun Kedekatan Orangtua & Anak di Tengah Tantangan Zaman” di Hotel Riez Palace, Kota Tegal, Selasa (29/9/2026).
Kegiatan yang terselenggara atas kerja sama Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBP2PA) Kota Tegal menghadirkan narasumber pengasuhan keluarga, Erna Tri Maryati.
Amiruddin menggarisbawahi, tantangan menjadi orangtua di era digital menuntut kesadaran untuk tidak bersikap otoriter maupun memaksakan persepsi orang dewasa kepada generasi muda. Menurut dia, kesempurnaan bukanlah hal utama yang dicari oleh anak dari sosok ayah dan ibunya.
”Anak sesungguhnya tidak menuntut sosok orangtua yang serba sempurna. Yang mereka butuhkan adalah kehadiran utuh orangtuanya, baik secara fisik maupun emosional,” kata Amiruddin.
Ia melanjutkan, pengasuhan merupakan proses pembelajaran seumur hidup. Orangtua perlu mengasah pola dialog dua arah yang setara, menumbuhkan empati atas dunia anak, serta terbuka menerima perubahan pola pengasuhan ke arah yang lebih sehat.
”Menjadi orangtua berarti terus belajar. Belajar berkomunikasi secara baik dengan anak dan keluarga, belajar memahami dunia mereka yang berbeda dari zaman kita dahulu, serta berani berubah ke arah yang lebih baik. Tidak pernah ada kata terlalu tua untuk belajar, dan tidak pernah ada kata terlambat untuk berbenah (never too old to learn, never too late to change),” tegasnya.
Amiruddin turut menyampaikan apresiasi kepada jajaran DPPKBP2PA Kota Tegal serta seluruh peserta yang hadir secara aktif. Ia berharap materi yang diperoleh dari seminar ini dapat diimplementasikan langsung di lingkup rumah tangga guna memperkuat ketahanan keluarga serta merekatkan hubungan emosional antaranggota keluarga.
Sementara itu, dalam paparannya, Erna Tri Maryati mengingatkan ancaman kerenggangan keluarga akibat teralirkannya perhatian anggota keluarga pada gawai (gadget). Kelekatan emosional (bonding) yang kokoh menjadi benteng agar anak tidak mencari pemenuhan kasih sayang dan pelarian semu di luar rumah.
Melalui penguatan komunikasi berbasis keterbukaan serta penerimaan emosi anak tanpa penghakiman, orangtua diharapkan mampu menjadi tempat pulang yang paling aman dan menenangkan bagi buah hatinya.




