Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tegal menemukan angin segar dari lantai produksi PT Dongcai Garment Indonesia, perusahaan spesialis baju renang berorientasi ekspor. Dalam kunjungan lapangan pada Selasa (2/12), DPRD memastikan perusahaan tersebut tidak hanya berkomitmen terhadap investasi, tetapi juga signifikan menyerap tenaga kerja lokal.
Kunjungan yang dipimpin Ketua Komisi II Zaenal Nurohman ini merupakan perwujudan sinergi antara pemerintah daerah dan pelaku usaha untuk memverifikasi denyut nadi investasi dan dampaknya terhadap masyarakat setempat.
“Alhamdulillah, kami dapati mayoritas pekerjanya adalah warga Kota Tegal,” ujar Zaenal Nurohman dengan nada puas.
Temuan ini dinilai menjadi kabar baik di tengah upaya serius Pemerintah Kota Tegal untuk menekan angka pengangguran dan kemiskinan. Investasi yang masuk terbukti berbuah manfaat langsung dan konkret bagi masyarakat lokal.
Selain fokus pada penyerapan tenaga kerja, Komisi II juga berdialog dengan manajemen PT Dongcai mengenai iklim investasi dan proses perizinan di Kota Tegal. Manajemen perusahaan menyampaikan pandangan positif. Pelayanan perizinan di Kota Tegal dinilai sudah cukup baik dan memudahkan para investor. Hal ini menjadi “lampu hijau” dan sinyal positif bagi pelaku usaha lain untuk menanamkan modal di kota bahari ini.
Kekhawatiran akan hengkangnya perusahaan, yang sempat mengemuka, juga sirna. Komisi II menindaklanjuti informasi terkait akan berakhirnya kontrak sewa lokasi PT Dongcai saat ini. Pihak perusahaan memberikan kepastian bahwa mereka telah membebaskan lahan baru. Lokasi pabrik baru berada di Kelurahan Muarareja, tidak jauh dari lokasi yang sekarang.
Dengan demikian, PT Dongcai Garment Indonesia dipastikan akan tetap beroperasi dan berkomitmen berinvestasi jangka panjang di Kota Tegal. Komitmen ini patut diapresiasi oleh Pemerintah Kota. Meski demikian, terdapat satu sorotan tajam dari Zaenal Nurohman, yakni tingginya angka turn-over atau perpindahan karyawan yang cukup signifikan.
Manajemen menjelaskan, hal ini dipicu oleh karakteristik produk yang mereka hasilkan, yaitu baju renang. Memproduksi pakaian renang, yang merupakan produk ekspor, membutuhkan keahlian dan ketelitian tinggi. Sedikit saja meleset, kualitas ekspor terancam. Persyaratan kualitas ketat inilah yang menyebabkan beberapa pekerja lokal mungkin kesulitan bertahan.
Menyikapi hal ini, Komisi II memberikan dorongan keras kepada Pemerintah Kota dan pelaku usaha untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) lokal. Mereka berharap, tenaga kerja lokal dibekali tidak hanya dengan keterampilan teknis yang memadai, tetapi juga sikap (attitude) kerja yang baik.
“Bekerja di industri standar ekspor seperti ini adalah maraton, bukan lari sprint. Kami berharap agar tenaga kerja lokal mampu bersaing, bertahan, dan berkembang. Lokalitas harus beriringan dengan kualitas,” tegas politisi PKS ini. Ia menekankan pentingnya pelatihan dan pembinaan berkelanjutan agar warga Tegal mampu bersaing di industri garmen berstandar global




