Langkah Abdul Ghoni Perkuat Usaha Mikro di Tegal Melalui Strategi Komunikasi

Langkah Abdul Ghoni Perkuat Usaha Mikro di Tegal Melalui Strategi Komunikasi

Pertumbuhan ekonomi mikro di Indonesia menghadapi tantangan besar di tengah disrupsi teknologi. Di Kota Tegal, Jawa Tengah, persoalan mendasar yang menghambat pelaku usaha kecil bukan lagi sekadar kualitas produksi, melainkan rendahnya kemampuan mengomunikasikan nilai produk kepada pasar.

Kesenjangan kompetensi ini menjadi sorotan utama dalam Pelatihan Public Speaking bagi Pelaku Usaha Mikro yang diselenggarakan oleh Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, dan Perdagangan (Dinkop UKM Perdagangan) Kota Tegal. Agenda yang berlangsung di Kecamatan Tegal Selatan pada Sabtu (25/4/2026) hingga Minggu (26/4/2026) ini diikuti oleh 45 pelaku usaha lintas sektor.

Anggota DPRD Kota Tegal dari Fraksi PKS, Abdul Ghoni, menekankan bahwa lemahnya strategi pemasaran menjadi penyebab utama banyak usaha mikro mengalami stagnasi hingga “mati suri”. Menurutnya, produk yang berkualitas tidak akan memberikan dampak ekonomi signifikan jika tidak dibarengi dengan kemampuan persuasi yang mumpuni.

“Pembinaan pemerintah tidak boleh berhenti pada seremoni pelatihan. Harus ada jembatan konkret menuju ekosistem pasar yang lebih luas. Tanpa kemampuan komunikasi yang menghubungkan produk dengan kebutuhan dunia usaha, pelaku usaha mikro akan terus berputar di lingkaran yang sama,” ujar Abdul Ghoni.

Ia menegaskan bahwa indikator keberhasilan pelatihan ini bukan sekadar penambahan wawasan bagi peserta, melainkan peningkatan omzet secara nyata. Baginya, peran pemerintah sangat krusial sebagai katalisator yang menghubungkan potensi lokal dengan jaringan bisnis yang lebih besar.

Selama ini, pola pikir pelaku usaha mikro cenderung terjebak pada aspek teknis produksi—seperti menjaga rasa, memperbaiki kemasan, dan efisiensi harga—namun kerap abai pada cara menarik atensi konsumen.

Kepala Dinkop UKM Perdagangan Kota Tegal, Sirat Mardanius, melalui Kepala Bidang Koperasi dan Usaha Mikro, Randy Aditya, menyatakan bahwa kemampuan berbicara di depan publik kini menjadi kunci peningkatan kelas usaha. Di era digital, ruang bicara tidak lagi terbatas pada interaksi fisik, tetapi juga melalui layar ponsel dan media sosial.

“Teknologi informasi telah mengubah cara pasar berinteraksi. Pelaku usaha mikro tidak boleh jalan di tempat. Mereka harus mampu meyakinkan orang lain bahwa produknya layak beli melalui promosi yang terarah,” kata Sirat.

Logika Masalah dan Solusi

Senada dengan hal tersebut, narasumber pelatihan sekaligus akademisi dari Politeknik Pancasakti Global, Ali Irfan, mengajak peserta untuk membongkar kebiasaan lama. Ia menekankan bahwa public speaking bukan tentang tampil mewah di depan kamera, melainkan tentang penguasaan pesan dan pengenalan profil audiens.

Ali menawarkan formula komunikasi yang sederhana namun efektif: identifikasi masalah konsumen, lalu tawarkan produk sebagai solusi.

“Di pasar saat ini, siapa yang mampu menjelaskan dengan baik akan lebih dulu didengar. Dan mereka yang didengar, biasanya akan lebih dulu dipilih oleh pembeli,” ungkap Ali.

Melalui pelatihan ini, para pelaku usaha mikro di Kota Tegal diharapkan mulai bergeser dari sekadar “jago produksi” menjadi komunikator yang handal, guna menjawab tantangan ekonomi global yang kian kompetitif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2026