Ketua Komisi II DPRD Kota Tegal Zaenal Nurohman, S.A.P bersama Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah (UKM), dan Perdagangan Kota Tegal menginisiasi program peningkatan kapasitas bagi pelaku UMKM lokal Program ini difokuskan pada penguatan perencanaan bisnis sebagai fondasi utama dalam menghadapi ketatnya persaingan pasar.
Zaenal Nurohman, S.A.P, menyatakan bahwa langkah ini merupakan wujud konkret alokasi anggaran pokok-pokok pikiran (pokir) untuk memberdayakan ekonomi kerakyatan. Dalam kegiatan yang berkolaborasi dengan Genpro Kota Tegal tersebut, ia menekankan pentingnya navigasi usaha yang terukur.
“Memulai usaha tanpa peta bisnis yang jelas hanya akan membingungkan langkah pelaku usaha. Pemahaman komprehensif harus didapatkan dari mentor yang berpengalaman agar eksekusinya tepat sasaran,” ujar Zaenal di hadapan para peserta pelatihan di Tegal, Selasa (12/5/2026).
Zaenal juga menyoroti fenomena mentalitas “menunggu modal” yang sering menjadi hambatan bagi pengusaha pemula. Menurutnya, modal materiil bukanlah variabel utama. Ia mengajak pelaku usaha untuk meneladani kegigihan Nabi Muhammad SAW dalam berdagang, yang mengedepankan integritas dan ilmu.
“Mayoritas merasa kesulitan karena fokus pada modal yang belum ada. Padahal, modal utama adalah niat, mentalitas yang kuat, dan ilmu yang dipraktikkan. Pelajari dari nol dan kembangkan secara konsisten,” tambahnya.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Dinas Koperasi UKM dan Perdagangan Kota Tegal, Sirat Mardanus, S.Pi., M.Si., menegaskan komitmen pemerintah dalam mendorong pelaku usaha agar mampu “naik kelas”. Upaya ini diharapkan menciptakan efek domino bagi perekonomian kota.
“Ketika omzet naik dan serapan tenaga kerja bertambah, maka angka pengangguran serta kemiskinan akan terkoreksi secara otomatis. Perencanaan bisnis adalah kunci; gagal merencanakan berarti sedang merencanakan kegagalan,” kata Sirat.
Ia mengingatkan bahwa perencanaan bisnis bukanlah dokumen kaku yang tidak bisa diubah, melainkan instrumen dinamis yang harus senantiasa dievaluasi melalui tahapan waktu (timeline) yang jelas. Dengan evaluasi berkala, pertumbuhan usaha menjadi lebih terukur.
Kegiatan pelatihan ini dirancang agar tidak berhenti pada tataran administratif semata. Sirat menekankan bahwa pemerintah kini tidak lagi hanya berorientasi pada masukan (input) berupa anggaran atau luaran (output) berupa barang belanjaan dan jumlah peserta.
Fokus utama kini bergeser pada hasil (outcome) dan dampak (impact). “Kami mengejar manfaat yang berkelanjutan. Pelatihan ini harus memberikan keuntungan nyata bagi pelaku usaha sehingga pada akhirnya memberikan dampak kesejahteraan yang luas bagi masyarakat Kota Tegal,” tutupnya.




