Selalu ada kisah menarik dibalik Pemilu 2024. Salah satunya kisah saksi PKS untuk mendapatkan formulir C1. Hal ini dikisahkan olah Utomo Widyo, salah satu Koordinator Saksi PKS di Tegal Timur. Ia mengisahkan betapa tidak ringannya kerja saksi PKS. Mengikuti proses perhitungan suara sampai tengah malam, bahkan sampai ada yang selesai pagi tetapi tetap dijalani dengan penuh tanggungjawab.
Ketika saksi dari partai lain memilih pergi, karena saking lamanya, banyak diantara mereka meninggalkan TPS. Namun saksi PKS tetap bertahan. Hesti, salah satu saksi PKS mengisahkan pengalamannya jadi saksi PKS dengan setengah berkelakar.
“Aku berangkat pagi dengan suasana bahagia. Siang lelah. Sore marah. Malam saya ‘kesetanan’. Begitu dapat amplop setelah menyerahkan formulir C1, setane ilang dewek. Hehehe…Kisah ini menggambarkan betapa lamanya perjuangan mendapatkan formulir C1.
Tidak hanya itu, jadi saksi PKS itu Sejahtera. Suplai logistik aman terkendali. Cukup duduk diam rezeki datang. Berupa makanan, snack, dan juga minuman ada yang mengantarkan langsung ke lokasi TPS. Ada di salah satu TPS, begitu tim logistik datang, suasana TPS yang tegang mendadak ramai, karena petugas KPPS mengumumkan lewat pengeras suara, “Saksi PKS makanan datang.” Pengumuman itu menarik perhatian para petugas KPPS, dan lebih menarik perhatian para saksi partai lain.
“Pantesan saksi PKS lemu-lemu. Makanan yang tadi saja belum habis sudah dikirim lagi.” Saksi dari partai lain malah ada yang lebih menyedihkan mengungkapkan isi hatinya, “Aku nganti dregdeg kaya kie laka sing ngirim panganan.” Saya badan sampai gemetaran begini, tidak ada yang kirim makanan.
Bisa dibayangkan mereka, para saksi, setengah tujuh harus sudah tiba di TPS. Ikut acara pembukaan. Menyaksikan jalannya pemungutan suara. Memantau penghitungan suara sampai malam, ada juga yang selelsai subuh, bahkan ada yang sampai baru selesai pukul setengah dua belas siang. Benar-benar tidak ringan. Kerja 24 jam lebih nonstop.
Suatu ketika, ada konflik saling klaim perolehan suara dari tim caleg dari partai lain. Masing-masing dari mereka mengunggulkan caleg yang dibelanya lebih besar dibandingkan caleg lain meski dari satu partai. Sayangnya diantara mereka tidak ada yang punya formulir C1, sebagai bukti akurat perolehan suara. Salah satu dari mereka menghubungi saksi PKS yang memang mengikuti kerja saksi dari awal sampai akhir mendapatkan C1.
Saya butuh data C1 njenengan, sebutkan saja berapa saya harus bayar, berapa nomor rekeningnya.
Mereka membayar saksi. Perhitungan sampai pagi, ga ada yang betah. Mereka pulang. Posko juga sudah kosong. Dan mereka berharap bisa dapat C1. Tinggal sebutkan saja berapa angka yang saya sebutkan, akan langsung ditransfer. C1 adalah nyawa kita.
Saya membayangkan wajah-wajah saksi PKS yang bekerja sampai pagi. Saya membayangkan tim PKS mendistribusikan logistic ke para saksi. Ga tega saya mengkhianati. Masa loyalitasnya akan digadaikan dengan transferan. Nanti saya tidak punya harga diri jika ketemu sama pengurus PKS yang memberi saya mandat sebagai korsak PKS. [Irfan Ali]