RKI jadi Program Unggulan PKS: Bipeka PKS Jateng Studi Tiru ke RKI Kota Tegal

RKI jadi Program Unggulan PKS: Bipeka PKS Jateng Studi Tiru ke RKI Kota Tegal

Dewan Pengurus Wilayah Partai Keadilan Sejahtera Jawa Tengah, melalui Bidang Perempuan dan Keluarga (BIPEKA), melakukan studi tiru ke Dewan Pengurus Daerah PKS Kota Tegal, Ahad (16/11). Kunjungan ini bertujuan untuk mengadopsi praktik terbaik program Rumah Keluarga Indonesia  yang telah menjadi salah satu program unggulan PKS secara nasional.

Pemilihan Kota Tegal sebagai lokasi studi tiru didasarkan pada dua alasan utama: keberhasilan DPD PKS Tegal dalam pembinaan keluarga melalui konsep RKI, serta status Kota Tegal sebagai salah satu daerah yang telah memiliki Peraturan Daerah tentang Penyelenggaraan Pembangunan Ketahanan Keluarga.

Ketua BIPEKA DPW PKS Jateng, Titik Anggraini, S.Pd., menyampaikan bahwa isu keluarga merupakan konsentrasi utama PKS, yang diyakini sebagai fondasi kekuatan bangsa.

“PKS memang sangat konsen pada isu-isu keluarga karena bangsa yang kuat itu bisa dimulai dari rumah. Dari rumah yang kuat bisa melahirkan pemimpin-pemimpin kuat,” tegas Titik di Hotel Kotta Tegal.

Titik menjelaskan, pada periode ini, BIPEKA PKS secara nasional memfokuskan dua program unggulan: penguatan pemberdayaan perempuan dan penguatan ketahanan keluarga. RKI menjadi payung utama untuk isu ketahanan keluarga.

“Di BIPEKA punya dua program unggulan. Yang pertama Rumah Keluarga Indonesia (RKI) yang merupakan forum bagi yang concern untuk ketahanan keluarga. Yang kedua pos pemberdayaan ekonomi keluarga,” ungkapnya.

Keberadaan RKI yang kini tersebar di lebih dari 2.000 titik di seluruh Jawa Tengah, menjalankan beragam program, mulai dari Sekolah Keluarga, Forum Ayah, Kajian Strategis Keluarga, hingga Konsultan Keluarga. Salah satu program yang baru diluncurkan adalah Gerakan Kumpul Keluarga, yang diinisiasi saat Hari Ayah, 12 November lalu, sebagai upaya peningkatan kualitas interaksi antar anggota keluarga.

Titik berharap kegiatan ini dapat mendorong daerah-daerah lain di Jawa Tengah untuk mengadopsi praktik terbaik pengelolaan RKI Kota Tegal sebagai bukti nyata kepedulian PKS dalam menjaga ketahanan keluarga di tingkat lokal.

Ketua DPD PKS Kota Tegal Zaenal Nurohman mendukung penuh langkah Bipeka untuk menguatkan peran keluarga.  “Ini adalah ikhtiar nyata PKS dalam mengemban misi Pengarusutamaan Keluarga,” ungkapnya. Misi ini bertujuan untuk memasukkan perspektif keluarga dalam segala aspek pembangunan. Sebagai legislator daerah, salah satu yang telah diperjuangkan adalah disahkannya Perda Penyelenggaraan Pembangunan Ketahanan Keluarga.

“Ini untuk memastikan kebijakan publik berpihak pada penguatan fungsi-fungsi keluarga,” tambah Zaenal.

Kegiatan studi tiru ini dihadiri Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah H. Sururul Fuad, Lc, M.E.I, Anggota DPR RI DR. Abdul Fikri Faqih, MM, Wakil Ketua DPRD Kota Tegal H. Amiruddin, Lc yang menunjukkan dukungan penuh terhadap isu ketahanan keluarga dan adopsi kebijakan publik yang mendukungnya.

Sementara itu Ketua Bipeka DPD PKS Kota Tegal Adistya Pratiwi, S.Pi menyampaikan apresiasi atas kehadiran Tim Bipeka DPW PKS Jateng yang menjadikan RKI Kota Tegal sebagai model untuk diterapkan di Kota/Kabupaten di Jawa Tengah

Serumah Tapi Tak Sejiwa

Serumah Tapi Tak Sejiwa

Oleh: Ali Irfan

Dosen. Ketua Bidang  Pelatihan dan Kepemimpinan Anggota Partai DPD PKS Kota Tegal

 

Indonesia menempati urutan ketiga sebagai fatherless country dalam pengasuhan anak. Fenomena fatherless ini dialami oleh 1 dari 5 anak Indonesia. Dampaknya sangat serius—dari krisis kepercayaan diri hingga risiko perilaku menyimpang.

Data UNICEF 2021 menunjukkan sekitar 20,9 persen anak Indonesia kehilangan peran ayah dalam kehidupannya. Riset Kompas menunjukkan ada sekitar 15,9 juta anak Indonesia yang berpotensi tumbuh tanpa figur ayah. BPS mencatat hanya 37,17 persen anak usia 0–5 tahun yang tinggal bersama kedua orang tua kandung.

Fatherless merupakan istilah yang di mana seorang anak hidup hanya bersama dengan ibunya tanpa kehadiran ayah, baik secara fisik maupun psikologis. Ayah menjadi sosok yang sering disebut, tetapi makin jarang dirasakan. Ada di rumah, tapi tak hadir dalam cerita. Menafkahi, tapi tak menenangkan. Berbicara, tapi tak benar-benar menyapa.

Ketiadaan peran ayah karena ia hanya hadir secara fisik dan tidak terlibat dalam masalah tumbuh kembang anak. Indikasi tersebut didasarkan pada jumlah waktu yang dihabiskan ayah untuk berkomunikasi dengan anak-anak mereka.  Semakin sedikit waktu untuk berkomunikasi dengan anak, maka semakin kuat negeri tersebut disebut sebagai fatherless country.

Osmond (2010) mengartikan bahwa fatherless merupakan kondisi di mana seorang individu tidak secara fisik maupun emosional Bersama dengan ayahnya. Fatherless akan berpengaruh terhadap harga diri (self-esteem) yang rendah ketika ia dewasa, adanya perasaan marah, rasa malu, rasa kesepian, rasa cemburu, kedukaan, dan perasaan kehilangan yang ekstrim, yang disertai pula oleh rendahnya pengendalian diri (Lenner, 2011; Kruk, 2012)

Fenomena fatherless bukan hanya tentang ketiadaan fisik seorang ayah, melainkan absennya jiwa kepemimpinan yang seharusnya ditumbuhkan dalam diri anak. Banyak anak tumbuh dalam rumah lengkap, tapi batinnya yatim. Mereka punya sosok yang dipanggil Ayah, tapi tak tahu rasanya dipeluk dengan aman, didengar dengan sabar, atau dituntun dengan lembut. Tinggal serumah tapi tidak sejiwa.

Di zaman modern yang memuja kesibukan. Lembur dianggap cinta, gawai dijadikan pengganti tatapan. Lalu lahirlah generasi yang kehilangan arah. Di ruang makan yang seharusnya digunakan untuk membangun kelekatan, suasana sepi, ayah makan sambil menggulir layar, sementara anak diam sambil memendam tanya: Apakah aku berharga di matanya?

Ayah yang ideal bukanlah yang selalu tahu jawaban atas setiap pertanyaan, tapi yang bersedia hadir dalam tanya. Bukan seberapa lama kita bersama keluarga, tapi seberapa dalam kesan yang kita tinggalkan. Ia tak harus sempurna, cukup jujur. Tak mesti banyak bicara, asal hadir dengan hati yang utuh. Sebab bagi anak, rasa aman tak lahir dari uang saku, melainkan dari pelukan yang menegaskan: Aku ada bersamamu.

Menjadi ayah sejati adalah perjalanan pulang — dari ego menuju empati, dari gengsi menuju kedekatan. Saat ayah belajar menatap mata anaknya, di sanalah cinta menemukan bentuk yang paling sederhana namun paling kuat: kehadiran.

Peran ayah tidak hanya bersifat simbolik, tetapi krusial dalam pembentukan karakter anak. Kehadiran yang utuh merupakan bentuk tanggung jawab dan investasi jangka panjang bagi masa depan generasi penerus. Anak yang tumbuh di rumah yang penuh dengan limpahan kasih sayang, kecil kemungkinan menjadi pelaku kekerasan atau bullying. Jika ayah sebagai qawwam—penopang keluarga—kuat, maka sebesar apa pun masalah, keluarga akan tetap kokoh. Kedekatan kepada seorang ayah membuat anak tampil percaya diri dan dekat dengan seorang ibu membuat anak penuh kasih saying.

Zaman boleh berubah, tapi kebutuhan anak tak pernah usang — rasa aman, rasa diterima, rasa dicintai. Dan semua itu bermula dari satu sosok: seorang ayah yang memilih hadir, bukan sekadar tinggal.[]

Artikel ini telah dimuat Radar Tegal Kamis, 13 November 2025.
Komisi I DPRD Kota Tegal Dorong Penanganan Serius untuk SD Ma’mur Ni’mah

Komisi I DPRD Kota Tegal Dorong Penanganan Serius untuk SD Ma’mur Ni’mah

Anggota Komisi I DPRD Kota Tegal Hj. Erni Ratnani, SE, MM meminta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Tegal memberikan perhatian serius terhadap kondisi sarana dan prasarana SD Ma’mur Ni’mah. Permintaan itu disampaikan saat audiensi antara Komisi I dengan perwakilan guru dan yayasan sekolah, Kamis (7/11).

Para guru mengungkapkan berbagai kendala yang dihadapi sekolah, mulai dari keterbatasan fasilitas belajar hingga kondisi bangunan yang memprihatinkan. Dua ruang belajar di lantai dua belum memiliki plafon dan sering menjadi sarang kelelawar. Setiap pagi, sebelum kegiatan belajar, para siswa harus bergiliran membersihkan lantai dan dinding yang kotor akibat kotoran kelelawar.

Pada 2022, SD Ma’mur Ni’mah sempat memperoleh bantuan ruang kelas baru (RKB) senilai Rp342 juta. Namun, hingga kini bangunan tersebut belum memiliki atap dan plafon, dan pihak sekolah masih menunggu realisasi usulan Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk perbaikan lanjutan.

“Kami prihatin melihat semangat guru dan siswa yang tetap bertahan dalam kondisi terbatas seperti ini. Komisi I merekomendasikan agar Disdikbud memberikan perhatian lebih,” ujar Erni Ratnani, anggota Komisi I DPRD Kota Tegal.

Erni menambahkan, motivasi guru juga perlu terus ditingkatkan. “Guru-guru di SD Ma’mur Ni’mah didorong melakukan studi tiru ke sekolah lain yang pernah mengalami situasi serupa namun berhasil bangkit dan mandiri,” tuturnya.

Selain persoalan fasilitas, Komisi I menekankan pentingnya penguatan manajemen dan kemandirian sekolah. Dengan pengelolaan yang baik, sekolah diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan orangtua terhadap kualitas pendidikan.

 

Amiruddin Dorong Generasi Muda Tegal Jadi Wirausaha Mandiri

Amiruddin Dorong Generasi Muda Tegal Jadi Wirausaha Mandiri

Wakil Ketua DPRD Kota Tegal H. Amiruddin, Lc mendorong generasi muda Kota Tegal memanfaatkan bonus demografi melalui jalur wirausaha. Upaya tersebut diwujudkan lewat pelatihan Perencanaan Bisnis Sederhana yang digagas olehnya bekerja sama dengan Dinas Pemuda, Olahraga Dan Pariwisata Kota Tegal.

Kegiatan yang digelar di Holy Bowl Cafe, Jalan Kapten Ismail No. 76, Tegal Barat, (7/11) dan diikuti oleh 40 peserta dari kalangan Generasi Z. Pelatihan dibuka langsung Kepala Dispora Kota Tegal Dr. Drs. Irkar Yuswan Apendi, MM, dan turut menghadirkan para pelaku usaha muda sebagai narasumber.

Dalam sambutannya, Amiruddin menekankan bahwa wirausaha adalah kunci kemandirian ekonomi bangsa dan sarana pembentukan karakter generasi muda. Ia mencontohkan teladan Rasulullah SAW yang memulai aktivitas berdagang sejak usia 12 tahun.

“Jangan menunggu mapan untuk mulai bisnis. Nabi kita sudah belajar berdagang sejak usia muda, dan dari sanalah lahir mental tangguh serta sikap jujur yang menjadi fondasi pengusaha sejati,” ujar Amiruddin.

Politikus PKS tersebut menyebutkan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari inisiatif DPRD untuk memperkuat literasi ekonomi dan minat wirausaha di kalangan pemuda. “Bonus demografi hanya akan menjadi peluang bila anak muda siap mengambil peran sebagai pelaku ekonomi, bukan sekadar pencari kerja,” katanya.

Amiruddin menegaskan bahwa dirinya di legislatif berkomitmen mendukung kebijakan yang berpihak pada tumbuhnya ekosistem wirausaha muda. Menurutnya, sektor ini mampu menjadi motor penggerak ekonomi daerah jika ditopang oleh pelatihan dan pendampingan berkelanjutan.

“Kita ingin melahirkan generasi muda Tegal yang berani mengambil risiko, mandiri secara ekonomi, dan punya semangat memberi manfaat bagi lingkungan,” ungkapnya.

Kepala Disporapar Kota Tegal Irkar Yuswan Apendi menyampaikan, pihaknya siap melanjutkan sinergi dengan DPRD untuk memperluas program pelatihan serupa di tahun-tahun berikutnya. “Kami melihat antusiasme peserta luar biasa. Ini sinyal positif bahwa semangat berwirausaha mulai tumbuh di kalangan muda Tegal,” kata Irkar.

Pelatihan menghadirkan narasumber Ahmad Syahid, wirausahawan asal Surabaya yang sukses membangun usaha Klinik Pancing dan Griya Umpan. Syahid berbagi pengalaman tentang bagaimana hobi dapat diubah menjadi bisnis bernilai ekonomi.

“Langkah pertama dalam bisnis bukan teori, tapi keberanian untuk mulai. Setelah itu baru belajar meningkatkan keterampilan dan jaringan,” tuturnya. Kini usaha Syahid telah berkembang melalui berbagai kanal e-commerce dan media sosial.

Pembicara kedua, Niila Syukrillah, ST, pemilik usaha kuliner Bom Dimsum, menekankan pentingnya pola pikir kewirausahaan dalam melihat peluang. Ia menegaskan bahwa keberhasilan bisnis tidak hanya ditentukan oleh modal, tetapi oleh mentalitas menghadapi tantangan dan kegagalan.

Sementara itu, penulis Joko Riyanto dalam sesi Bisnis dan Literasi mengingatkan pentingnya pengetahuan sebagai fondasi pengambilan keputusan bisnis. “Tanpa literasi, bisnis hanya akan berjalan dengan intuisi tanpa arah. Ilmu adalah navigasi agar usaha bisa tumbuh berkelanjutan,” ujarnya.

 

Forum Ayah Kota Tegal Dorong Penguatan Peran Ayah dalam Keluarga

Forum Ayah Kota Tegal Dorong Penguatan Peran Ayah dalam Keluarga

Momentum Hari Ayah Nasional menjadi ajang refleksi bagi para ayah di Kota Tegal untuk kembali meneguhkan perannya dalam keluarga. Melalui Talkshow Spesial Hari Ayah bertema “Keluarga Keren dan Harmonis”, Forum Ayah Kota Tegal mengajak para ayah untuk tidak sekadar hadir secara fisik, tetapi juga terlibat secara emosional dalam pengasuhan dan pendidikan anak.

Kegiatan yang diinisiasi oleh DPD PKS Kota Tegal ini menghadirkan Ketua Forum Ayah DPP PKS, Kang Febri, sebagai narasumber utama. Acara berlangsung Sabtu (9/11) dengan dihadiri sekitar 80 peserta secara luring dan daring, termasuk Wakil Ketua DPRD Kota Tegal H. Amiruddin, Lc, dan Anggota DPRD Mochamad Ali Mashuri.

Ketua DPD PKS Kota Tegal, Zaenal Nurohman, menyampaikan bahwa penguatan peran ayah merupakan bagian penting dari upaya memperkokoh ketahanan keluarga. “Ada lima rumah utama dalam kehidupan kita, dan rumah tangga adalah yang pertama harus kita kokohkan. Dari sanalah ketahanan sosial bermula,” ujarnya.

Ketua Forum Ayah Kota Tegal, Retno Kristanto, menjelaskan bahwa forum ini merupakan bagian dari program Bidang Perempuan dan Keluarga (Bipeka) DPD PKS Kota Tegal. Forum tersebut menjadi wadah bagi para ayah untuk saling belajar dan mendukung dalam menjalankan peran kepemimpinan keluarga. “Tujuannya adalah meningkatkan kesadaran ayah sebagai pemimpin keluarga yang hadir, mendidik, dan menjadi teladan sesuai tuntunan Rasulullah,” kata Retno.

Retno juga menyoroti fenomena fatherless atau hilangnya figur ayah dalam keluarga. Ia mengutip data UNICEF tahun 2021 yang menunjukkan bahwa sekitar 20,9 persen anak Indonesia kehilangan peran ayah dalam kehidupannya. Ada sekitar 15,9 juta anak Indonesia yang berpotensi tumbuh tanpa figur ayah. BPS mencatat hanya 37,17 persen anak usia 0–5 tahun yang tinggal bersama kedua orang tua kandung.

“Bukan seberapa lama kita bersama keluarga, tapi seberapa dalam kesan yang kita tinggalkan,” ujarnya.

Sementara itu, Kang Febri menekankan pentingnya kehadiran ayah sebagai sumber kehangatan dan kenyamanan di rumah. Menurutnya, keluarga yang hangat akan melahirkan pribadi-pribadi yang berkualitas.

“Anak yang tumbuh di rumah penuh kasih kecil kemungkinan menjadi pelaku kekerasan atau bullying. Jika ayah sebagai qawwam—penopang keluarga—kuat, maka sebesar apa pun masalah, keluarga akan tetap kokoh,” ujarnya.

Melalui forum tersebut, para ayah diajak untuk tidak sekadar menjadi pencari nafkah, tetapi juga menjadi figur yang menumbuhkan rasa aman, cinta, dan arah bagi anak-anaknya. Sebuah ajakan sederhana, namun esensial: membangun kembali keluarga Indonesia dari rumah, dimulai dengan kehadiran seorang ayah.

Kolaborasi dan Penguatan Sistem Krusial Hadapi TPA Bokong Semar

Jelang peresmian Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bokong Semar sebagai pengganti TPA sementara di Muarareja, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tegal mendesak Pemerintah Kota (Pemkot) Tegal untuk memperkuat kolaborasi dan tata kelola sistem persampahan secara menyeluruh.

Dalam audiensi Komisi III DPRD Kota Tegal dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Persatuan Bank Sampah Nusantara (Perbanusa) Kota Tegal, Anggota Komisi III DPRD Kota Tegal Abdul Ghoni menekankan bahwa operasional TPA Bokong Semar harus menjadi momentum untuk memperbaiki tata kelola persampahan dari hulu hingga hilir.

Ghoni menilai, fokus penanganan sampah tidak boleh hanya terpusat di TPA. Ia mendorong Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tegal untuk melibatkan berbagai pihak, demi optimalisasi pengelolaan sampah di sumbernya.

“Kami mendorong DLH untuk tidak hanya fokus pada penanganan di TPA, tetapi juga mengkolaborasikan pengelolaan sampah dengan masyarakat melalui bank sampah, Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST), serta menggandeng pihak swasta melalui program CSR dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan,” ujar Ghoni.

Selain kolaborasi, politisi PKS ini juga menyoroti urgensi penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) penanganan sampah yang jelas dari hulu ke hilir.

“Dengan adanya SOP yang jelas, lalu lintas sampah mulai dari pengumpulan, pengangkutan, hingga pengolahan dapat berjalan lebih baik dan terukur,” tambahnya.

SOP ini diharapkan menjadi panduan baku yang memastikan efisiensi dan akuntabilitas seluruh proses pengelolaan sampah di Kota Tegal.

Terakhir, Ghoni mengingatkan pentingnya penguatan pelaksanaan Peraturan Daerah (Perda) tentang Persampahan yang sudah berlaku. Menurutnya, Perda tersebut harus dilaksanakan secara tegas dan konsisten agar pengelolaan sampah dapat berjalan efektif dan berkelanjutan.

“Perda sudah ada, tinggal bagaimana komitmen kita bersama untuk menegakkannya,” tegasnya. Ghoni optimistis, dengan adanya sinergi dan penegakan regulasi yang kuat, masalah sampah di Kota Tegal dapat diatasi secara signifikan.

Langkah strategis ini diharapkan dapat mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA, sekaligus mendorong ekonomi sirkular di Kota Tegal.

Copyright © 2026