Warung Mahal Jadi Sorotan, DPRD Minta Pemkot Tegal Tertibkan Pengelolaan Wisata PAI

Warung Mahal Jadi Sorotan, DPRD Minta Pemkot Tegal Tertibkan Pengelolaan Wisata PAI

Mengapa Pantai Alam Indah (PAI) kian sepi pengunjung, padahal lokasinya strategis dan jadi ikon wisata Kota Tegal? Jawabannya mungkin ada pada pengalaman pahit wisatawan: tiket masuk dan parkir yang mahal, ditambah lagi harga makanan di warung yang disebut tak masuk akal. Situasi ini kini menjadi sorotan DPRD yang curiga ada praktik pungutan liar hingga lemahnya pengawasan pemerintah daerah.

Ramainya keluhan pengunjung tentang mahalnya harga makanan di kawasan wisata Pantai Alam Indah (PAI) Kota Tegal memunculkan sorotan serius dari DPRD. Tidak sedikit wisatawan yang mengaku kapok berkunjung karena selain biaya tiket dan parkir yang dianggap tinggi, harga makanan dan minuman di warung sekitar lokasi juga dinilai tidak masuk akal.

Fenomena ini dinilai sebagai salah satu faktor yang membuat kawasan wisata andalan Kota Tegal tersebut kian sepi pengunjung. Padahal, sektor pariwisata diharapkan dapat menjadi lokomotif ekonomi lokal dengan memberikan multiplier effect bagi pedagang kecil dan pelaku usaha mikro.

Anggota Komisi III DPRD Kota Tegal, H. Abdul Ghoni, SE, menegaskan bahwa hal ini harus menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Tegal, khususnya Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar). Ia menilai, kuliner merupakan bagian penting dari layanan penunjang pariwisata yang harus dikelola dengan baik dan transparan.

“Pengawasan tidak boleh hanya pada sarana utama seperti tiket dan parkir, tetapi juga pada layanan penunjang seperti warung makan. Kalau pengunjung merasa dibebani harga yang tidak wajar, mereka enggan datang kembali. Ini merugikan pedagang, merugikan daerah, dan akhirnya merusak citra pariwisata kita,” ujar politisi PKS ini.

Menurutnya, jika memang ada indikasi pungutan liar atau permainan harga, Pemkot harus segera bertindak. Ia mendorong regulasi yang lebih jelas, misalnya dengan mewajibkan seluruh pedagang menampilkan daftar menu dan harga secara terbuka agar pengunjung tidak merasa ditipu.

“Pariwisata yang sehat akan menguntungkan semua pihak. Kalau harga makanan wajar, wisatawan tidak segan-segan datang kembali, dan omzet pedagang justru meningkat. Inilah yang kami maksud dengan ekonomi kerakyatan: pariwisata tumbuh, warga kecil juga sejahtera,” tegasnya.

Abdul Ghoni menambahkan, fungsi pengawasan legislatif akan terus berjalan untuk memastikan kebijakan pariwisata di Kota Tegal tidak hanya sebatas pembangunan fisik, tetapi juga menyentuh aspek pelayanan dan kenyamanan pengunjung.

“Pariwisata itu bukan sekadar objek, tapi pengalaman. Jika pengalaman wisatawan buruk karena persoalan harga, maka ke depan sulit bersaing dengan daerah lain. Kami minta Pemkot menata ulang pengelolaan PAI secara profesional, sehingga benar-benar menjadi destinasi unggulan yang memberi manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.[]

Dua Pahlawan yang Berkhidmat Dibalik Kemudi Ambulans PKS

Dua Pahlawan yang Berkhidmat Dibalik Kemudi Ambulans PKS

Nama Uut telah menjelma menjadi simbol ketulusan dan pengabdian dibalik kemudi ambulans PKS Kota Tegal selama 12 tahun lebih. Ketika PKS menambah unit ambulans baru, Budianto—yang akrab disapa Budi—bergabung, memperkuat barisan pejuang kemanusiaan ini.
Selama lebih dari satu dekade, mereka telah menjadi jawaban atas panggilan darurat yang kehadirannya seringkali menjadi garis pemisah antara cemas dan lega. Mereka menjadi saksi bisu dari ribuan kisah perjuangan hidup, air mata yang tumpah, dan napas yang terhela di sepanjang jalanan Tegal.

Di era di mana kecepatan adalah segalanya, Uut dan Budi telah meruntuhkan sekat-sekat birokrasi. Cukup dengan menghubungi salah satu kader PKS, mereka akan langsung terhubung, dan dalam hitungan menit, ambulans akan meluncur.
Setiap bulan, Uut mengisahkan, mereka bisa melayani 45- 50 permintaan. Angka itu melukiskan tingginya kebutuhan dan besarnya kepercayaan masyarakat kepada PKS. Ambulans PKS siap mengantar pasien yang butuh pertolongan medis segera, melintasi batas-batas kota, dan bahkan mengantar jenazah hingga ke tempat peristirahatan terakhir.

Jika diakumulasikan selama 12 tahun, jumlah layanan yang mereka berikan telah mencapai ribuan, sebuah bukti nyata dari dedikasi tanpa henti.
Melihat tingginya permintaan, kedua pengemudi ini menyimpan harapan besar agar PKS Kota Tegal yang baru dapat semakin memperkokoh komitmen pelayanan dan mengabdi. “Syukur-syukur tambah unit baru, sehingga bisa menjangkau lebih banyak orang dan memberikan pertolongan yang lebih cepat,” ujar Budi.

Kisah Uut dan Budi bukanlah sekadar cerita tentang dua pengemudi ambulans. Ini adalah kisah tentang kemanusiaan yang terwujud dalam bakti nyata, tentang janji yang selalu ditepati, dan tentang dua sosok yang menjadikan jalanan Tegal sebagai ladang pengabdian.
Atas pengabdian dan dedikasi luar biasa ini, Walikota Tegal, Dedy Yon Supriyono, turut memberikan apresiasi. Dalam sebuah momen penghargaan yang diselenggarakan di sela-sela acara Pelantikan Pengurus DPD PKS Kota Tegal, secara spontan Walikota Dedy Yon memberikan apresiasi sebesar Rp 500.000 kepada masing-masing dari mereka. Apresiasi ini menjadi bukti nyata dari Pemerintah Kota Tegal terhadap bakti kemanusiaan yang telah ditunjukkan keduanya.

Mengakar Kuat dengan Tiga Pilar: PKS Kota Tegal Meneguhkan Komitmen Pelayanan

Mengakar Kuat dengan Tiga Pilar: PKS Kota Tegal Meneguhkan Komitmen Pelayanan

Di tengah hiruk-pikuk politik yang kerap kali diwarnai intrik dan retorika, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Tegal mencoba meneguhkan identitasnya dengan cara yang lebih mendalam. Bukan sekadar janji-janji manis di musim kampanye, melainkan sebuah filosofi yang mereka sebut sebagai DNA pelayanan.

Hal ini menjadi benang merah dalam Musyawarah Cabang (Muscab) DPD PKS Kota Tegal yang diselenggarakan di Hotel Premier pada 21 September 2025 lalu, sekaligus menandai pelantikan pengurus baru untuk masa bakti 2025-2030.
Dalam sambutannya yang penuh makna, Anggota DPR RI Dapil IX dari Fraksi PKS Dr. H. Abdul Fikri Faqih, MM, dengan tegas menyampaikan bahwa PKS dibangun di atas tiga pilar utama yang tak tergoyahkan. “DNA PKS itu adalah pembinaan yang terstruktur, kegiatan yang positif, dan silaturahim,” ujarnya.

Menurut Fikri, Ketiganya bukan sekadar jargon, melainkan fondasi yang membentuk karakter kader PKS. Pembinaan yang terstruktur memastikan setiap kader memiliki pemahaman ideologis yang kuat dan siap berkhidmat. Sementara itu, kegiatan positif menjadi wujud nyata dari kontribusi partai kepada masyarakat, jauh dari sekadar wacana. Terakhir, silaturahim adalah perekat yang menjaga soliditas internal dan memperluas jangkauan ke tengah masyarakat.
Tiga pilar ini, menurut Fikri, adalah modal utama untuk bergerak, melayani, dan menjadi bagian solusi bagi permasalahan rakyat. Konsep ini seolah menjadi antitesis dari stigma partai politik yang seringkali dianggap hanya muncul menjelang pemilihan. Bagi PKS, pelayanan adalah napas harian, bukan sekadar tugas musiman.

Pernyataan Fikri senada dengan apa yang ditekankan oleh Ketua DPD PKS Kota Tegal yang baru dilantik, Zaenal Nurohman. Bagi Zaenal, DNA PKS adalah pelayanan, dan hal ini harus terwujud dalam aksi nyata para kadernya, terutama mereka yang menduduki jabatan publik. “Begitu ada masyarakat membutuhkan pelayanan, kita harus fast response,” tegas Zaenal. “Ada yang WA, harus cepat balas. Jangan sampai kita sulit dihubungi masyarakat.”

Pesan Zaenal ini menyoroti pentingnya aksesibilitas dan responsivitas. Di era digital ini, sekat antara wakil rakyat dan konstituen harus semakin tipis. Kemudahan berkomunikasi menjadi kunci untuk membangun kepercayaan. Slogan “fast response” bukan lagi sekadar himbauan, melainkan sebuah tuntutan etis yang harus dipegang teguh oleh setiap kader PKS. Hal ini mencerminkan komitmen untuk selalu hadir dan mendengarkan keluhan, aspirasi, serta kebutuhan masyarakat, kapan pun dan di mana pun.
Acara pelantikan pengurus DPD PKS Kota Tegal periode 2025-2030 menjadi momentum krusial untuk meneguhkan kembali komitmen tersebut. Zaenal berharap semua bidang dalam kepengurusan baru dapat bersinergi secara optimal. Sinergi ini tidak hanya terbatas di internal partai, tetapi juga bagaimana PKS dapat bekerja sama dengan seluruh elemen masyarakat untuk mensukseskan pembangunan di Kota Tegal.

Dengan menegaskan DNA yang berfokus pada pembinaan, kegiatan positif, silaturahim, dan yang paling utama, pelayanan yang cepat tanggap, PKS Kota Tegal seolah menantang dirinya sendiri untuk menjadi institusi politik yang berbeda. Mereka tidak hanya ingin menjadi “rumah aspirasi” melainkan juga “rumah solusi” yang senantiasa terbuka dan responsif bagi setiap warganya.[]

Keluhkan Sarana Prasarana, Warga Panggung Temui Pimpinan dan Anggota DPRD Fraksi PKS Kota Tegal

Keluhkan Sarana Prasarana, Warga Panggung Temui Pimpinan dan Anggota DPRD Fraksi PKS Kota Tegal

Tegal, 12 Agustus 2025 – Rombongan warga RW 10 Kelurahan Panggung mendatangi gedung DPRD Kota Tegal untuk menyampaikan keluhan terkait sarana dan prasarana di wilayah mereka. Kedatangan warga disambut langsung oleh Wakil Ketua DPRD Kota Tegal, H. Amiruddin, Lc, Ketua Fraksi PKS, H. Abdul Ghoni, serta Anggota DPRD Komisi III, Mochammad Ali Mashuri, S.A.P .

Ketua RW 10, Ibu Diyantara, secara langsung memaparkan sejumlah permasalahan yang dihadapi warganya. Poin-poin utama yang disampaikannya mencakup:

Banjir Rob: Akses keluar masuk warga terganggu akibat banjir rob yang kerap mencapai ketinggian lutut.

Fasilitas Kesehatan: Kurangnya alat penunjang kesehatan dan honor yang minim bagi kader kesehatan di wilayah tersebut.

Infrastruktur Air: Diperlukan penambahan pintu air untuk mengatasi banjir dan perbaikan menara air agar pasokan air bersih lebih lancar.

Menanggapi keluhan tersebut, H. Amiruddin, Lc menyatakan bahwa pihaknya sangat mengapresiasi kedatangan warga. “Kami berterima kasih atas kehadiran bapak dan ibu sekalian. Ini adalah wujud nyata dari partisipasi masyarakat dalam pembangunan,” ujarnya. Ia menegaskan, aspirasi ini akan segera ditindaklanjuti dengan berkoordinasi bersama instansi terkait.

Senada dengan H. Amiruddin, H. Abdul Ghoni dari Fraksi PKS menegaskan komitmen mereka untuk memperjuangkan aspirasi ini. “Kami akan mengawal masalah-masalah ini di tingkat legislatif. Terutama terkait banjir rob dan honor kader kesehatan, kami akan pastikan ada solusi konkret,” janji beliau.

Sementara itu, Ali Mashuri yang berada di Komisi III (bidang pembangunan dan infrastruktur) menambahkan bahwa pihaknya akan segera meninjau langsung lokasi. “Tim dari Komisi III akan turun ke lapangan untuk melihat kondisi riil terkait menara air dan pintu air. Kami akan berupaya agar perbaikan bisa segera dilakukan,” pungkasnya.

Pimpinan dewan berharap, sinergi antara legislatif dan masyarakat terus terjalin agar setiap permasalahan dapat diselesaikan dengan baik, demi mewujudkan Kota Tegal yang lebih maju dan sejahtera.

Fokus Tingkatkan Kualitas SDM, Erni Ratnani Dorong Kebijakan Nonfisik

Fokus Tingkatkan Kualitas SDM, Erni Ratnani Dorong Kebijakan Nonfisik

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tegal dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Hj. Erni Ratnani, S.E., M.M., menekankan pentingnya peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam reses masa persidangan ketiga yang digelar di Kelurahan Pesurungan Kidul, Tegal Barat, Ahad, 3 Agustus 2025. Erni menyatakan, kebijakan yang berfokus pada pembangunan nonfisik akan menjadi prioritas.

Acara reses ini bertujuan untuk menyerap aspirasi langsung dari masyarakat. Turut hadir dalam kegiatan tersebut Lurah Pesurungan Kidul Mohamad Johan Arafat, Perwakilan DPC PKS Pesurungan Kidul Nursidik, dan Ketua Koperasi Merah Putih Pesurungan Kidul Drs. H. Sipon Junaidi, M.Pd.

Lurah Pesurungan Kidul, Mohamad Johan Arafat, mendukung penuh fokus pada pembangunan nonfisik. Menurutnya, pembangunan fisik seperti pengaspalan atau paving block terkadang justru menimbulkan masalah baru, seperti banjir akibat berkurangnya resapan air.

“Pembangunan nonfisik sangat penting, misalnya untuk meningkatkan kualitas SDM masyarakat yang masih minim,” ujarnya.

Arafat juga menyoroti program bedah rumah (RTLH) sebagai salah satu program fisik yang dinilai berhasil. Ia berharap, usulan dari masyarakat dapat segera ditindaklanjuti.

Ketua Koperasi Merah Putih, Sipon Junaidi, memanfaatkan forum ini untuk mengusulkan perbaikan saluran irigasi yang tersumbat, khususnya di sekitar Rita Park. Akibat penyumbatan tersebut, aliran air terganggu dan menyebabkan banjir di wilayah Pesurungan Kidul, Debong Lor, dan Kemandungan saat hujan. Ia berharap, aspirasi ini dapat menjadi salah satu pokok-pokok pikiran (pokir) untuk segera diselesaikan.

Erni Ratnani dalam sambutannya menegaskan bahwa alokasi pokir untuk tahun anggaran 2025 dan 2026 akan lebih banyak dialihkan ke program nonfisik.

“Peningkatan kemampuan warga lebih utama dibandingkan hal fisik. Kami akan berfokus pada pelatihan dan pengembangan diri,” kata Erni.

Ia menyebutkan beberapa program nonfisik yang telah berjalan, seperti digital marketing, tata boga, dan tata rias. Ia juga mengusulkan program leadership bagi remaja untuk melahirkan generasi penerus yang kompeten.

Dalam sesi diskusi, beberapa warga menyampaikan aspirasinya. Bambang, warga RT 4 RW 3, meminta solusi untuk mengatasi banjir yang sering melanda Gang Damai. Ia juga mengusulkan pengadaan meja pingpong untuk remaja dan percepatan realisasi bedah rumah atas nama Karnudi.

Menanggapi hal tersebut, Erni Ratnani meminta warga untuk menuliskan usulan mereka di lembar aspirasi. Terkait bedah rumah, ia memastikan berkas akan segera diproses.

Warga lain, Siti Sofiati, menanyakan cara mendapatkan program kuliah gratis. Erni menjelaskan tentang Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah, yang setiap tahunnya diajukan oleh DPR RI Fikri untuk sekitar 150 mahasiswa. Ia mengingatkan agar para penerima KIP Kuliah benar-benar memanfaatkan bantuan tersebut untuk pendidikan, bukan disalahgunakan.

Sufinah bertanya mengenai pendaftaran data terpadu kesejahteraan sosial (DTSEN), sedangkan Ali mengusulkan kenaikan biaya operasional (BOP) RT/RW seiring kenaikan surat pemberitahuan pajak terutang (SPPT).

Terkait hal itu, Lurah Arafat menjelaskan, kenaikan SPPT di Kota Tegal termasuk yang paling rendah dibandingkan daerah lain. Selain itu, RT dan RW di Kota Tegal sudah menerima Rp500 ribu setiap bulan, tertinggi di eks-Karesidenan Pekalongan.

Menutup acara, seorang warga, Rita, menyampaikan kesannya. Ia merasa senang menjadi bagian dari kegiatan PKS karena anaknya telah dua kali menerima bantuan Program Indonesia Pintar (PIP), yang sangat membantu biaya sekolah. Ia juga mengapresiasi ruang yang diberikan untuk berbagi keluhan dengan sesama warga.

Reses Amiruddin Soroti Isu Bansos Hingga Infrastruktur

Reses Amiruddin Soroti Isu Bansos Hingga Infrastruktur

Wakil Ketua DPRD Kota Tegal, H. Amiruddin, Lc, menggelar reses di Jl. Kapuas, Kelurahan Panggung, Kecamatan Tegal Timur, pada Minggu (3/8/2025). Acara ini menjadi ruang bagi warga untuk menyampaikan aspirasi, dari persoalan bantuan sosial hingga infrastruktur lingkungan yang mendesak.

Politikus dari PKS, menjelaskan reses adalah agenda rutin tiga kali setahun untuk menyerap masukan masyarakat. Ia menyebut saat ini DPRD sedang fokus membahas Anggaran Perubahan 2025 dan menyiapkan Anggaran 2026. “Semua usulan program harus masuk ke Sistem Informasi Pemerintahan Daerah (SIPD) setidaknya setahun sebelumnya,” ujar Amiruddin, mengingatkan warga tentang alur birokrasi yang panjang.

Dalam kesempatan itu, Amiruddin juga memperkenalkan Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS), program yang digagas Anggota DPR RI Abdul Fikri Faqih. BSPS, berbeda dari program Rumah Layak Huni (RLH), menawarkan perbaikan rumah yang lebih menyeluruh, termasuk fondasi, atap, lantai, dan dinding. Pada 2025, sebanyak 40 rumah di Kelurahan Panggung dan Slerok akan menerima bantuan Rp20 juta per rumah. Syarat penerima harus terdaftar dalam DTSEN.

Pada reses tersebut, isu bantuan sosial menjadi sorotan utama. Noverdi Afrian, narasumber dari Dinas Sosial Kota Tegal, menjelaskan tentang Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) yang mulai diterapkan sejak Juni 2025. Noverdi memaparkan perbedaan mendasar antara DTKS dan DTSEN.

Menurut Noverdi, DTSEN dikelola secara lintas sektor dan diperbarui tiap bulan. Data ini menggunakan sistem desil untuk mengklasifikasi warga, dari miskin ekstrem hingga menengah ke atas.
“Fungsinya sebagai acuan utama penyaluran bansos,” jelas Noverdi. Ia juga menegaskan, data DTKS tidak otomatis pindah ke DTSEN. Warga harus mengajukan diri melalui aplikasi Cek Bansos atau kelurahan.

Seorang warga, Fitri, mengeluhkan hanya satu anggota keluarganya yang terdaftar di DTKS. Noverdi menjawab hal itu bisa karena perubahan status keluarga atau data di Dukcapil yang tidak sesuai. Ia menyarankan Ibu Fitri untuk memperbarui data kependudukannya.

Aspirasi juga datang dari Yusuf Efendi. Ia mengeluhkan saluran air di Jalan Kapuas yang sering banjir akibat perbaikan yang tak optimal. Yusuf juga mempertanyakan nasib bantuan PIP yang sudah memiliki Surat Keputusan (SK) nominasi, tetapi rekeningnya kosong.

Menanggapi hal itu Amiruddin menjelaskan bahwa dana PIP bisa kembali ke kas negara jika tidak diambil dalam setahun. Terkait banjir, Ia menyarankan agar warga mendokumentasikan kondisi jalan yang banjir sebagai bukti penguat usulan. Jika dana swadaya tak cukup, perbaikan akan masuk dalam perencanaan anggaran tahun berikutnya. Untuk lampu jalan yang mati, ia meminta warga melapor ke kelurahan untuk diteruskan ke Dinas Perhubungan.

Reses Abdul Ghoni Soroti Isu Sampah di Kota Tegal

Reses Abdul Ghoni Soroti Isu Sampah di Kota Tegal

Persoalam sampah menjadi isu utama yang diangkat dalam reses Anggota DPRD Kota Tegal, Abdul Ghoni. Kegiatan jarring aspirasi tersebut dilasanakan di Kelurahan Randugunting, Kecamatan Tegal Selatan pada Ahad sore, 3/8/2025. Dalam acara yang dihadiri ratusan warga itu, Ghoni menyatakan Kota Tegal dalam status darurat sampah akibat perintah penutupan TPA.

Ghoni, yang juga anggota Komisi III, menjelaskan Kota Tegal mendapat peringatan keras karena TPA masih menggunakan metode open dumping. Akibatnya, TPA harus ditutup permanen per 1 Desember mendatang. Padahal, produksi sampah harian mencapai 180 ton. “Tegal sedang darurat sampah. Rekomendasi dari Kementerian Lingkungan hidup, TPA Muarareja saat ini harus ditutup,” kata Ghoni.

Politiisi PKS ini mengajak seluruh warga bisa lebih bijak dalam penanganan sampah. Hindari buang sampah di saluran air karena bisa menyebabkan banjir.

Sebagai solusi, Pemerintah Kota Tegal berencana membangun Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di Bojong Semar. TPST ini akan menggunakan teknologi sanitary landfill yang lebih aman, karena mampu mengelola gas metana dari tumpukan sampah.

Selain itu, pemerintah juga sedang menyusun peraturan daerah (perda) tentang pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Rencananya, di Tegal Selatan akan dibangun 20 TPST.

Acara reses ini turut dihadiri Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah, Sururul Fuad, Lurah Randugunting, Zadiar Muhammad Firdaus, serta Ketua DPC PKS Tegal Selatan Roziqin.

Lurah Zadiar berterima kasih atas dukungan Ghoni yang membantu warga, khususnya dalam program Bantuan Perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).

Sementara itu, Sururul Fuad menjelaskan peran DPRD Provinsi dalam pembangunan, salah satunya pengelolaan SMA, SMK, dan SLB. Ia mencontohkan anggaran dari provinsi yang digunakan untuk pembangunan Unit Sekolah Baru SMA 6 Tegal Selatan. Ia juga mengajak warga menyampaikan usulan yang menjadi kewenangan provinsi melalui jalur aspirasi.

Dalam sesi diskusi, Ketua RW VII, Sutrisno, mempertanyakan kelanjutan rencana pemanfaatan lahan di belakang Kelurahan Randugunting. Lahan itu rencananya akan dijadikan hutan kota, jogging track, dan lapangan mini soccer. Diskusi terkait rencana ini sudah setahun lalu, namun belum ada realisasi. Sutrisno juga mengusulkan agar saluran air di lokasi digeser ke timur agar akses jalan lebih lebar.

Acara reses ini menjadi sarana bagi warga untuk menyampaikan aspirasi. Dengan sorotan pada isu lingkungan, warga berharap ada tindak lanjut konkret dari pemerintah dan DPRD untuk mengatasi persoalan mendesak ini.

Zaenal Nurohman Serap Aspirasi Warga, Prioritaskan Infrastruktur dan Kesejahteraan

Zaenal Nurohman Serap Aspirasi Warga, Prioritaskan Infrastruktur dan Kesejahteraan

Ketua Komisi II DPRD Kota Tegal Zaenal Nurohman, A.Md, menggelar reses di Kaligangsa, Kecamatan Margadana, Minggu (3/8/2025).
Pertemuan itu menjadi wadah menyerap aspirasi warga, berfokus pada perbaikan infrastruktur dan kesejahteraan keluarga.

Zaenal memaparkan pokok pikiran yang dihimpunnya, termasuk program pavingisasi, Program Indonesia Pintar (PIP), layanan BPJS Kesehatan dan KIS gratis, serta Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS). Ia juga menekankan pembangunan berorientasi ketahanan keluarga, yang mencakup peningkatan infrastruktur dan SDM.

Perwakilan pengurus Puspaga Kecamatan Margadana, Imam Rosyadi, menyoroti peran sentral keluarga. Menurutnya, kepala keluarga adalah pendidik utama anak. “Pola asuh yang baik, dengan tutur kata santun dan kejujuran, akan menumbuhkan kepercayaan anak,” ujarnya.

Sesi aspirasi masyarakat mencatat beberapa usulan penting. Ketua RW 5, Sugiyanto, mengeluhkan belum terealisasinya pavingisasi dan saluran air di RT 2 dan RT 3. Ia juga mengusulkan pengadaan armada transportasi untuk pasien yang berobat ke luar kota, seperti ke RS Karyadi. Menanggapi ini, Zaenal menyatakan usulan pavingisasi telah masuk pengajuan dan ditindaklanjuti. Ia juga menawarkan solusi mengubah fungsi ambulans menjadi mobil pengantar pasien, lengkap dengan bantuan uang saku.

Lurah Kaligangsa, Carmad, mengusulkan penambahan sarana dan prasarana untuk tujuh posyandu, berupa meja dan kursi. Zaenal merespons positif, menyebutkan bantuan itu akan jadi bagian dari pokok pikiran di Komisi II.

Warga lain, Sugiyarti, meminta perbaikan jalan dan pembangunan zebra cross di sekitar SD Kaligangsa 1 untuk keselamatan siswa. Zaenal akan mengupayakan dengan mengusulkan pembuatan zebra cross, perbaikan kontur jalan yang curam, dan penambahan lampu penerangan jalan.

Zaenal menegaskan, seluruh aspirasi akan menjadi masukan berharga dalam penyusunan program kerja DPRD dan akan dikawal realisasinya.

Reses Ali Mashuri Serap Aspirasi Isu Lingkungan dan Pariwisata di PAI

Reses Ali Mashuri Serap Aspirasi Isu Lingkungan dan Pariwisata di PAI

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tegal dari Fraksi PKS, Mochamad Ali Mashuri, menggelar reses masa persidangan III tahun 2024–2025 dengan menyambangi konstituennya di Pantai Alam Indah (PAI). Agenda yang berlangsung pada Sabtu, 2 Agustus 2025, ini menjadi sarana menyerap aspirasi masyarakat, khususnya terkait isu lingkungan dan pengembangan pariwisata.

Acara yang dihadiri oleh Lurah Mintaragen Imron Rosadi, para ketua RT dan RW, serta ratusan warga ini sengaja digelar di PAI. “Saya sengaja memilih lokasi di sini untuk menyapa langsung para pedagang dan melihat kondisi tempat rekreasi, yang menjadi salah satu program prioritas Komisi III,” ujar Ali Mashuri.

Sebagai anggota Komisi III, Ali Mashuri bermitra dengan sejumlah dinas, seperti DPUPR, Disperkim, dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Ia menegaskan komitmennya untuk memastikan program pemerintah daerah sejalan dengan kebutuhan masyarakat, termasuk dalam hal infrastruktur, perumahan, dan fasilitas umum.

Ali juga menyoroti pentingnya peran serta masyarakat dalam menjaga lingkungan. Ia mengimbau warga untuk meningkatkan kesadaran dalam pengelolaan sampah. “Bagaimana upaya masyarakat untuk sadar tentang persampahan,” katanya, menekankan bahwa partisipasi aktif warga sangat krusial.

Isu banjir rob yang kerap menjadi momok bagi warga pesisir juga tak luput dari perhatian. Ali Mashuri menekankan, “Peran masyarakat sangat penting untuk saling menangani, baik itu melalui perbaikan drainase ataupun lainnya.” Ia berkomitmen akan meneruskan aspirasi terkait banjir rob kepada dinas terkait agar segera ditindaklanjuti.

Pria yang akrab disapa Pak Ali ini berharap pemerintah dapat lebih fokus dalam pengembangan objek wisata, khususnya di Kota Tegal. “Harapannya, pemerintah fokus pada pengembangan objek wisata supaya fasilitasnya lebih lengkap dan menarik bagi wisatawan,” tuturnya.

Saat sesi tanya jawab, beberapa warga menyampaikan aspirasi yang mendesak. Hadi Santoso, pembina Pokdarwis Cemara PAI, menyoroti tiga hal penting. Ia mengeluhkan perubahan fungsi bangunan yang sebelumnya TPQ menjadi gudang jetsky dan meminta agar bangunan itu dikembalikan fungsinya sebagai tempat ibadah. Selain itu, ia mempertanyakan perbedaan pajak yang drastis antara pedagang di sisi barat dan timur PAI. Terakhir, Hadi meminta adanya pengurukan di area timur PAI yang sering terdampak banjir rob.

Sementara itu, Yuni Astuti, perwakilan warga dari Kelurahan Panggung, menyampaikan keluhan mengenai sumur artesis di RT 3 yang rusak dan tidak berfungsi. Ia menyayangkan alat senilai miliaran rupiah tersebut terbengkalai, padahal di wilayah lain sumur artesis bisa dikelola secara swadaya. Ia pun mendesak perbaikan agar sumur tersebut dapat dimanfaatkan kembali.

Keluhan serupa datang dari Toipah dari Kelurahan Mintaragen. Ia mengusulkan pengerukan saluran air di belakang SMK PGRI. Menurutnya, sedimentasi menjadi penyebab utama banjir dan rob yang kerap melanda wilayah tersebut.
.

UMKM Tegal Diajak “Go Digital”, Erni Ratnani Gelar Edukasi Digital Marketing

UMKM Tegal Diajak “Go Digital”, Erni Ratnani Gelar Edukasi Digital Marketing

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tegal, Hj. Erni Ratnani, SE,MM mendorong pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk beradaptasi dengan transformasi digital.

Hal ini disampaikan Erni dalam kegiatan Edukasi Digital Marketing untuk UMKM di Premier Hotel Kota Tegal, bekerja sama dengan Dinas Koperasi, Usaha Kecil, Menengah, dan Perdagangan Kota Tegal.

Erni Ratnani menambahkan, pihaknya berkomitmen memberdayakan UMKM melalui pelatihan teknologi aplikatif. Ia menyoroti sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan komunitas untuk membuka akses pasar lebih besar. “Dengan kolaborasi lintas sektor, kita bisa membawa UMKM lokal naik kelas,” ujarnya. Erni juga berharap para pelaku usaha bergabung dalam koperasi seperti Koperasi Merah Putih untuk memperkuat ekosistem ekonomi kerakyatan.

Kepala Dinkop UKM dan Perdagangan Kota Tegal, Muhammad Rudy Herstyawan, membuka acara ini dan menekankan pentingnya UMKM siap menghadapi digitalisasi. “Pemanfaatan pemasaran digital yang optimal akan memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan daya saing produk lokal secara global,” kata Rudy.

Pelatihan ini menghadirkan Syakir Ni’am yang memaparkan strategi optimalisasi platform Facebook dan WhatsApp untuk promosi produk UMKM. “Dengan dukungan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), pelaku UMKM bisa menyusun caption, ide konten, hingga logo yang lebih menarik dan efisien,” jelas Syakir. Menurutnya, hal ini dapat meningkatkan peluang penjualan sekaligus memperluas jangkauan pasar.

Narasumber selanjutnya, Hadi P, fokus pada strategi pembuatan konten berdasarkan konsep value proposition. Hadi menekankan pentingnya menjual keunikan dan keunggulan produk melalui narasi yang kuat dan visual yang menarik. Ia memperkenalkan formula value proposition yang mencakup produk berkaitan dengan nilai tambah dan diferensiasi, harga yang bersaing, tempat yang strategis, nyaman, dan ramai, serta promosi dalam bentuk konten yang tepat sasaran.

“Penjual fokus pada transaksi, tapi pebisnis membangun skala dan sistem. UMKM harus naik kelas dari penjual menjadi pebisnis,” tutur Hadi.

Di sesi penutup, peserta diajak praktik membuat konten dipandu Mba Fira. Peserta dibagi dalam kelompok untuk menghasilkan konten promosi berdasarkan materi yang telah disampaikan. Hasil dari tiap kelompok kemudian dipresentasikan dalam sesi interaktif.

Pelatihan ini mendapat sambutan positif dari peserta yang didominasi pelaku UMKM lokal. Mereka berharap pelatihan serupa dapat terus dilaksanakan untuk mendukung transformasi usaha menuju era digital yang lebih kompetitif.

Copyright © 2026