Peran seorang ayah sering kali direduksi sekadar menjadi tulang punggung pencari nafkah. Namun, di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, ayah memikul tanggung jawab yang jauh lebih besar dengan menjaga keluarganya dari kehancuran moral. Kesadaran inilah yang mengemuka dalam Kajian Forum Ayah bertajuk “Peran Ayah dalam Membangun Keluarga Dakwah” di Kantor DPD PKS Kota Tegal, Senin (10/8) sore.
Sore itu, para peserta laki-laki dari lintas generasi duduk membaur. Mulai dari mahasiswa yang baru menapaki usia dewasa hingga kakek yang telah menimang cucu, hadir menyimak. Rentang usia yang beragam ini menjadi simbol nyata bahwa tugas belajar memandu keluarga tidak pernah mengenal garis akhir.
Ketua Forum Ayah Kota Tegal, Retno Kristanto, S.E., dalam sambutannya mengingatkan kembali mandat utama seorang kepala keluarga. Menurutnya, ukuran keberhasilan seorang ayah tidak bisa hanya ditakar dari urusan materi.
”Tanggung jawab tertinggi seorang ayah adalah menjaga keluarganya dari api neraka. Kita perlu mengupayakan transformasi diri dari yang tadinya sekadar ‘Pejuang Keluarga’ dalam urusan dunia, kini harus naik kelas menjadi ‘Keluarga Pejuang’ dalam kebaikan,” ujarnya lugas.
Pesan senada dipertegas oleh Dr. H. Abdul Fikri Faqih, M.M., narasumber kajian sekaligus Anggota DPR RI. Ia menyoroti pentingnya sel-sel keluarga sebagai fondasi ketahanan sosial masyarakat di tengah berbagai krisis moral.
”Jalan keselamatan kita hari ini adalah membangun keluarga dakwah, yakni keluarga yang anggota-anggotanya saling mengajak pada kebaikan. Inilah pilar yang akan menumbuhkan masyarakat yang tangguh, yang terhindar dari budaya saling menjatuhkan,” tegas Fikri.
Lebih lanjut, ia juga membongkar mitos bahwa syiar kebaikan hanya milik segelintir orang yang menempuh pendidikan agama formal. Upaya mengajak pada jalan kebenaran adalah tugas setiap ayah, tanpa harus menunggu menjadi seorang alim ulama.




